artikel asyik online

health beauty care

Senin, 14 Mei 2012

PsikologiZone.com

PsikologiZone.com


Perbedaan Depresi Pria dan Wanita Atas Pekerjaan

Posted: 14 May 2012 04:20 AM PDT

Perbedaan Depresi Pria dan Wanita Atas Pekerjaan

Ilustrasi (stock.xchg)

Kanada, Psikologi Zone – Sebuah pekerjaan juga memiliki risiko, termasuk gangguan psikologis seperti depresi, baik pria maupun wanita. Sebuah penelitian baru mengungkapkan ada perbedaan perlakuan yang berbeda dari wanita dan pria atas pekerjaannya.

Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Canada mengatakan, wanita akan merasakan bentuk gangguan depresi saat pekerjaan mereka tidak dihargai dibandingkan dengan pria.

Lain halnya dengan beban pekerjaan, tingginya beban kerja justru akan meningkatkan depresi bagi pria, namun tidak dengan wanita.

Sedangkan konflik dalam sebuah keluarga dan pekerjaan akan mempengaruhi risiko mengalami depresi bagi pria maupun wanita. Perbedaannya adalah pria mengalami depresi saat konflik keluarga masuk dalam dunia kerja mereka, sedangkan wanita akan mengalami depresi saat konflik pekerjaan masuk dalam kehidupan keluarga.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology ini mengukuhkan penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa prestasi kerja berperan besar pada identitas pria dibanding wanita.

Walaupun kian banyak wanita memilih bekerja dan justru pria yang mengambil alih urusan rumah tangga. “Pria dan wanita melihat pekerjaan dan keluarga dengan cara berbeda,” ungkap Jianli Wang, peneliti dalam studi ini.

Peserta penelitian terdiri dari 2.700 orang yang pada 2007-2011 tercatat mengalami depresi. Para peneliti mengumpulkan data penelitian untuk mengetahui apa yang menyebabkan depresi, terkait dengan keluarga dan pekerjaan mereka.

Dalam kurun waktu selama satu tahun, 3,6 persen peserta diketahui mengalami diagnosis depresi. Depresi tercatat lebih tinggi dialami oleh wanita 4,5 dibandingkan dengan pria yang hanya 2,9 persen.

Wanita yang memiliki pekerjaan full time, berisiko tinggi terkena depresi. Berbeda dengan pria, walaupun mereka bekerja full time, risiko depresi hanya akan terjadi saat beban kerja yang tinggi terjadi.

Ketakutan akan kehilangan pekerjaan juga akan meningkatkan gangguan depresi bagi wanita maupun pria. Para peneliti menekankan bahwa gangguan depresi bisa mempengaruhi prestasi kerja. “Pengusaha harus memantau besarnya faktor seperti ketegangan dalam pekerjaan untuk mencegah hal negatif,” kata Wang yang juga profesor di departemen Psikiatri dan Komunitas Ilmu Kesehatan di University of Calgary di Alberta, Kanada. (fox/mba)


Kasus Perdagangan Manusia Di Indonesia Terbesar Ke-2

Posted: 14 May 2012 01:10 AM PDT

Kasus Perdagangan Manusia Di Indonesia Terbesar Ke-2

Ilustrasi (stock.xchg)

Yogyakarta, Psikologi ZoneHuman trafficking atau perdagangan manusia di Indonesia dinilai sangat memprihatinkan. Kondisi ini sangat besar terjadi di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Tindak kejahatan tersebut bisa dialami oleh tetangga, saudara atau bahkan anak-anak.

Perdagangan manusia yang terjadi masuk dalam kategori prostitusi yang ikut melibatkan anak-anak menjadi objek eksploitasi seksual.

Menurut PBB, Indonesia sendiri memasuki peringkat ke-2 sebagai negara yang paling banyak terjadi perdagangan manusia. Indonesia dicap sebagai pengirim, penampung dan sekaligus memproduksi aksi kejahatan ini. Sebab maraknya kondisi ini lantaran himpitan ekonomi yang kian mendesak.

“Saya seringkali dihadapkan pada pekerja seks komersial (PSK) berusia 12-16 tahun, bahkan di usia segitu sudah ada yang sudah positif mengidap HIV dan menjadi mucikari bagi teman-temannya,” ungkap psikolog Riza Wahyuni, S.Psi., M.Si, Psi., saat Seminar bertemakan “Save Our Children from Violence” di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (14/5).

Ia mengatakan, para korban perdagangan manusia seperti PSK, tidak mengetahui bila ternyata merupakan korban kejahatan. Lantaran mendapatkan iming-iming uang, mereka rela menemani pria hidung belang yang kemudian berakhir pada penyakit seksual.

“Namun yang lebih penting adalah mengatasi kondisi korban pasca kekerasan dan eksploitasi seksual yaitu support for survival atau dukungan kepada korban agar tidak menyerah dan terus bertahan hidup. Hal ini karena biasanya setelah mengetahui kondisinya, para korban mengalami depresi, suka menyakiti diri sendiri dengan tidak makan, tidak tidur hingga bunuh diri,” tutur Riza.

Menurutnya, bukan hanya korban, kita juga perlu fokus pada keluarga yang berpotensi memberikan dampak langsung bagi korban, misalnya dikucilkan dan lain sebagainya.

“Apalagi masyarakat Indonesia paling mudah dipengaruhi oleh labelling (pelabelan atau pencitraan) yang sebenarnya dikategorikan sebagai korban,” kata salah satu fasilitator IOM-PBB untuk kekerasan perempuan dan anak di Indonesia ini.

Berdasarkan pengalamannya selama kurun waktu 9 tahun dalam penanganan korban kekerasan pada anak dan perempuan, ia mengatakan bahwa korban cenderung tertutup, bahkan berbohong saat memberikan laporan pada konselor.

Belum lagi masalah kehormatan, karena kasus eksploitasi seksual pada kalangan ekonomi atas, kasus ini cenderung ditutup rapat-rapat.

Mengatasi fenomena ini, Riza meminta semua pihak harus aktif mensosialisasikan melalui sekolah, kampus atau tempat tongkrongan para remaja. Lebih baik lagi bila sosialisasi juga ditumbuhkan sikap empati atau meminimalisir stigma negatif pada korban eksploitasi seksual.

“Saya bersama sejumlah teman-teman psikolog lainnya juga tengah mengupayakan sosialisasi melalui media yang dekat dengan generasi muda seperti komik atau poster,” tandas Riza. (dtk/mba)


Anak Mogok Sekolah

Posted: 13 May 2012 11:56 PM PDT

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Konsultasi oleh Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum Jombang, direktur dan konsultan pendidikan anak, rekan ahli psikologi di beberapa lembaga, dan pernah menjadi pembicara di berbagai acara seminar, pelatihan dan talk show.

Tentang Uswatun HasanahEmail Uswatun Hasanah

Pertanyaan:

Anak saya mogok sekolah, indikasi karena stres atau depresi saat berada di sekolah, selain pelajaran ketinggalan (karena malas belajar) di sensitif jika ada yang mengejek. Dia juga sangat membenci adiknya dan selalu ingin diperhatikan seperti anak 3 tahun. Dia juga akan membenci siapapun yang membela adiknya. Bagaimana menyikapinya? (PS, 48, Karyawan )

Jawaban:

Saudari Pupung yang baik, dalam konsultasi ini sayang anda tidak mencantumkan usia anak anda ini adalah informasi penting bagi kami untuk dapat memberikan masukan buat anda, tapi beberapa hal yang perlu anda tahu mengenai depresi pada anak adalah juga kehilangan minat untuk melakukan kegiatan sebelumnya yang sangat mereka sukai, dan gejala ini berlansung selama 7 sampai dengan 9 bulan, yang perlu dilakukan orang tua adalah datang kepada dokter keluarga lebih dahulu untuk berkonsultasi dan memastikan ada tidaknya gangguan kesehatan yang menimbulkan anak berubah perilaku atau murung dsb.

Jika dipastikan tidak ada gangguan kesehatan secara fisik maka anda kami sarankan untuk datang atau membuat janji dengan seorang psikiater anak untuk memastikan apakah anak benar-benar mengalami depresi seperti yang anda sebutkan dan jika ia perlu penanganan medis dan konseling yang berkelanjutan untuk penyembuhan, Tanyakan pada anak Anda hal-hal di bawah ini untuk mengetahui penyebab kesedihan anak Anda :

• Apa yang terjadi hari ini sehingga kamu sangat sedih?
• Apa yang membuat kamu bahagia?
• Apa sih yang kamu cari?
• Apa yang kamu inginkan terjadi padamu?

Perawatan lainnya meliputi terapi bermain, evaluasi berkelanjutan dan pada beberapa kasus, menggunakan obat. Obat antidepresi seringkali digunakan untuk merawat kasus depresi menengah. Yang penting juga, belumlah diijinkan untuk memberikan obat antidepresi pada anak di bawah usia 8 tahun.
Demikian masukan dari saya semoga bermanfaat. Terimakasih atas segala perhatiannya


 
Copyright 2010 dummy autoblog. All rights reserved.
© 2011 dummy autoblog | Powered by Blogger | Ping My Blog to : google - yahoo - bing - ask