PsikologiZone.com |
| UGM Gagas Program Evakuasi Gempa untuk Difabel Posted: 13 May 2012 07:09 AM PDT Ilustrasi (stock.xchg) Bila melihat situasi gempa bumi, tidak akan terlihat bagaimana perlakuan evakuasi bagi kaum difabel. Padahal, kaum difabel sudah seharusnya mendapatkan perlakuan khusus saat situasi becana terjadi. Butuh sebuah program khusus untuk meningkatkan langkah antisipasi bencana bagi kaum difabel. Oleh karna itu, Tim Difabel Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) Fakultas Geografi UGM tergugah untuk memenuhi kebutuhan itu. Mereka terdiri dari Ajrul Arin, Aditya Eka, Chaidir Adlan, Citra Ridhani, dan Hanung Setyo. Tim yang dibimbing oleh dosen Doddy Widianto MRegDev ini mengadakan pelatihan yang menjelaskan informasi bencana. Pelatihan ini langsung ditangani oleh tim Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) dan Fakultas Geografi. Tidak lupa juga memberikan pengetahuan bagaimana menghilangkan trauma pasca bencana oleh tim psikolog. Chaidir Adlan mewakili tim Bangkit mengatakan, program ini mengenalkan pengetahuan keruangan (spasial) pada para tunanetra dengan maket ruangan panti. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan evakuasi yang lebih efektif dan cepat. “Kurang meratanya informasi dan kemampuan terkait mitigasi bencana gempa bumi terhadap para difabel khususnya penyandang tunanetra menjadi titik awal bagaimana kami terus melakukan pengabdian ini,” katanya di kampus UGM. Pelatihan ini sudah dilaksanakan di beberapa Panti Rehabilitasi Yogyakarta. Pihak panti sangat mengapresiasi dilakukannya program itu, mereka juga berharap pelatihan Tunanetra tanggap Bencana tersebut dapat terwujud. Dani, yang merupakan salah satu penghuni panti merasa senang dengan program tersebut. Ia dan teman panti lainnya semakin waspada bila suatu saat terjadi bencana gempa. (sm/mba) |
| Mengenali Wajah Seseorang Melalui Bagian Wajah Posted: 12 May 2012 09:07 PM PDT Ilustrasi (stock.xchg) “Kami melihat per bagian dari wajah seperti mata, hidung, dan mulut yang kemudian memahami hubungan antar bagian tersebut. Cara ini ternyata lebih baik saat mengenali wajah seseorang.” kata Jason M. Gold, salah satu peneliti dari Indiana University, rilis Psychological Science (8/3). Penelitian baru ini diterbitkan dalam jurnal Psychological Science edisi Maret 2012. Para peneliti terdiri dari Jason M. Gold dan Patrick J. Mundy dari Indiana University, satu lagi Bosco S. Tjan dari University of Southern California. Studi ini menemukan bahwa kinerja seseorang saat mengenali wajah secara holistik tidak lebih baik saat mereka mengenali setiap bagian dari wajah yang ditunjukkan. “Anehnya mengenali bagian-bagian wajah lebih baik dari pada mengenalinya secara holistik,” kata Gold. Untuk memprediksi kinerja setiap peserta, para peneliti menggunakan model teoritis yang disebut Optimal Bayesian Integrator (OBI). OBI dapat mengukur keberhasilan seseorang dalam seri pengalaman sebuah sumber informasi, yang dalam penelitian adalah bagian-bagian wajah. Nilai skor saat mengenali wajah dengan mengkombinasikan bagian-bagian wajah harus sama dengan jumlah skor per bagian wajah. Dalam percobaan pertama, peserta ditunjukkan gambar bagian dari wajah tiga pria dan tiga wanita. Peserta akan melihat satu bagian wajah misalnya mata, kemudian gambar tersebut akan menghilang. Setelah itu enam gambar mata akan ditampilkan secara bersamaan dalam satu layar. Para peserta diminta memilih gambar mata mana yang baru dilihatnya. Percobaan kedua dilakukan dengan menampilkan keseluruhan wajah dalam bentuk oval. Percobaan kedua ini ditujukan untuk menguji kembali teori sebelumnya melalui metode holistik. Pada kedua eksperimen yang dilakukan, kinerja peserta dengan metode holistik tidak lebih baik dari pada metode per bagian. Temuan ini mengindikasikan bahwa mengenali bagian-bagian wajah berbeda dengan metode holistik, walaupun kemudian bagian wajah itu dikombinasikan. “OBI menawarkan kerangka matematis yang jelas saat mempelajari kembali definisi sebuah konsep,” jelas Gold. Temuan tersebut bisa menjadi rujukan dalam memahami gangguan kognitif seperti Prosopagnosia, yaitu ketidakmampuan mengenali wajah. Selain itu bisa membantu untuk membangun perangkat lunak sebagai pengamanan melalui detektor wajah. Namun, nilai riil dalam penelitian ini menurut Gold, “Jika Anda ingin memahami kompleksitas dari pikiran manusia, maka memahami proses dasar bagaimana kita memandang sebuah pola dan objek adalah bagian penting dari sebuah teka-teki.” (mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |