PsikologiZone.com |
| Angka Bunuh Diri Remaja Meningkat di Kanada Posted: 11 Apr 2012 04:07 AM PDT Ilustrasi (tmpi) Penelitian ini dipublikasikan melalui Jurnal Kesehatan Kanada yang juga mencatat perubahan metode bunuh diri yang dipakai, mulai dari memakai senjata, racun hingga pencekikan. “Kami berpesan bahwa semua kasus bunuh diri merupakan sebuah tragedi dan tren yang mengganggu,” kata Robin Skinner, seorang epidemiologi dari Badan Kesehatan Masyarakat Kanada di Ottawa, Selasa (10/4). Tercatat pada tahun 1980, 0,6 per 100 ribu anak perempuan berusia 10 hingga 14 tahun melakukan bunuh diri, peningkatan terjadi pada tahun 2008 sebanyak 0,9 per 100 ribu anak perempuan. Peningkatan juga terjadi pada remaja perempuan berusia 15 hingga 19 tahun dari tahun 1980 sebanyak 3,7 per 100 ribu menjadi 6,2 per 100 ribu pada 2008. Secara holistik, bunuh diri adalah penyebab utama kematian warga negara Kanada usia 10 hingga 19 tahun setelah kecelakaan. Sebaliknya, penelitian tersebut mencatat tidak ada perubahan yang signifikan pada angka bunuh diri di kalangan anak laki-laki usia 10 hingga 14 tahun. Namun, ada penurunan yang cukup tajam pada anak laki-laki usia 15 hingga 19 tahun. Pada tahun 1980 tercatat 19 per 100 ribu melakukan bunuh diri dan 6,2 per 100 ribu pada 2008. Studi ini tidak meneliti mengapa sejumlah kasus bunuh diri bisa meningkat di kalangan anak perempuan dalam 28 tahun terakhir, atau mengapa angka tersebut justru menurun pada anak laki-laki. Peneliti juga menunjukkan adanya kestabilan dalam metode bunuh diri, yaitu dengan cara mati lemas. Banyak para pelaku bunuh diri memilih menggantungkan diri sebagai metode yang bersih, cepat dan tidak menyakitkan bagi mereka. Laurence Kirmayer dari Departemen Psikiatri di Universitas McGill di Montreal ikut memberikan komentar, peningkatan angka rata-rata bunuh diri di kalangan anak perempuan bisa disebabkan oleh metode yang dipilih sangat mematikan. “Anak perempuan lebih cenderung memakai racun dari pada senjata, walaupun metode gantung diri memiliki efek yang lebih mematikan, namun racun yang digunakan cenderung memiliki dosis pil yang subletal atau bahan lainnya,” ungkapnya. (ant/mba) |
| Para Ahli Telah Melihat Kemajuan Penyebab Autisme Posted: 10 Apr 2012 10:23 PM PDT Ilustrasi (nurturedecatur) “Saya berpikir selama tiga sampai lima tahun ke depan, kita akan dapat mengetahui gambaran yang jelas tentang bagaimana kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan saling terhubung dalam menentukan penyebab autisme,” kata Geraldine Dawson, psikolog yang juga menjadi kepala kantor bidang advokasi kelompok autisme. Upaya tersebut merupakan respon atas hasil sebuah laporan yang baru-baru ini ditemukan di Amerika Serikat. Laporan tersebut mengatakan, telah terjadi peningkatan prevalensi menjadi 1 dari 88 anak mengalami autisme. Bila penyebab autisme tetap menjadi misteri, “kita tidak akan dapat menghentikan lonjakan jumlah penyandang autisme,” kata Irva Hertz-Picciotto, peneliti di University of California. Hasil serangkaian penelitian telah dipublikasikan di sejak hari National Autism Awareness di Amerika Serikat. Penelitian yang dipublikasikan oleh Journal Nature, memperluas pemahaman tentang faktor genetik yang dapat mempengaruhi autisme, yaitu resiko usia ayah yang terlalu tua bisa menyebabkan anak yang dilahirkan mengalami autisme. Penelitian lain yang dirilis oleh Pediatrics Amerika Serikat mengatakan, ibu yang mengalami obesitas juga bisa membuat anak berpotensi mengalami autistik. Penyebab autisme diyakini sangat rumit, dan belum tentu sama bagi setiap anak. Beberapa ahli menyamakan autisme dengan kanker. Dalam banyak kasus, autisme juga diibaratkan sebagai senjata, faktor genetik adalah pelurunya dan faktor lainnya adalah pelatuk. Fenomena ini menjadi perhatian publik dan berkembang selama dua dekade, bahkan pemerintah Amerika Serikat meningkatkan pendanaan untuk penelitian selama dekade terakhir, dan sekarang sudah mencapai 170 juta dolar per tahun melalui National Institutes of Health. Sebagian besar uang digunakan untuk menemukan penyebab genetika, yang dipercaya dapat menjelaskan sekitar 20 persen kasus autisme. Keberhasilan yang paling awal adalah pada 1990 dan melibatkan penemuan dasar-dasar genetik dari sindrom Fragile X, sebuah kondisi langka yang menyumbang hanya 2 sampai 4 persen kasus autisme. Fokus penelitian pada faktor genetik telah didukung oleh perbaikan dalam pemetaan gen serta bioteknologi tikus dalam menguak gejala autisme. Puluhan gen yang beresiko menyebabkan autisme telah diidentifikasi, dan enam perusahaan farmasi juga telah melakukan pengembangan pengobatan baru. “Kami telah membuat beberapa kemajuan yang sangat signifikan pada akhir pencarian faktor genetika,” kata Dr Thomas Insel, direktur National Institutes of Health. Para Ilmuwan telah menggunakan tikus sebagai uji coba mengobatan baru. Pengobatan ini dikembangkan oleh perusahaan Massachusetts yang ditujukan untuk masalah otak pada anak autistik, dimana neuron otak terhubungan dan memberikan sinyal melalui sistem saraf. Obat tersebut dianggap berhasil pada percobaan tikus dan sekarang tengah diujikan pada anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan autistik dan Asperger. Hasilnya diharapkan bisa dipresentasikan pada konferensi ilmiah di tahun depan. “Ini akan menjadi waktu yang menarik saat hasil penelitian tersebut berhasil,” kata Dawson, dari Autism Speaks. Dawson mengatakan, faktor genetika hanya merupakan bagian dari penyebab autisme. Studi autisme pada anak kembar identik menunjukkan bahwa autisme tidak terjadi pada keduanya, namun hanya salah satu dari mereka. Jadi, ada faktor luar yang ikut mendukung penyebab autisme. (apa/mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |