PsikologiZone.com |
| Wanita Lebih Beresiko Kecanduan Facebook Posted: 11 May 2012 08:45 AM PDT Ilustrasi (facebook.com) Para psikolog yang tergabung dalam penelitian ini melibatkan 423 pelajar. Para penelit akan mengamiti tanda-tanda perilaku adaptif saat mereka menggunakan Facebook. Para peneliti menggunakan sebuah alat ukur yang disebut “Bergen Facebook Addiction Scale”. Alat ukur tersebut dapat mengetahui bagaimana skor adiktif partisipan berdasarkan tingkat penggunaan Facebook. Nilai skala diukur mulai dari skala satu hingga skala lima. Selain menggunakan alat ukur, para siswa juga diminta memberikan komentar terkait dengan dorongan perasaan mereka untuk menggunakan Facebook. Termasuk saat kegagalan mereka untuk mengakses facebook dan pembatasan pengunaan jejaring sosial tersebut. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan selama penelitian berlangsung, beberapa peserta menunjukkan tanda-tanda mengalami bentuk kecanduan Facebook. Bentuk adiktif tersebut sama dengan apa yang dialami seseorang yang mengalami kecanduan obat-obatan, alkohol, dan zat kimia lainnya. Menurut para peneliti, siswa yang berusia lebih muda memiliki potensi lebih besar mengalami kecanduan jejaring sosial seperti Facebook dibandingkan dengan pelajar yang usianya lebih tua. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, wanita memiliki resiko lebih besar dibanding pria. Para peneliti juga menambahkan, seseorang yang mengalami kecemasan atau ketidaknyamanan sosial lebih berpotensi menjadi pengguna setia situs jejaring sosial seperti facebook. Kondisi semacam ini bisa terjadi lantaran mereka merasa diberikan kemudahan untuk menyalurkan perasaan menggunakan teknologi dibandingkan saat berkomunikasi langsung. (kmp/mba) |
| Angka Pernikahan Dini di Kabupaten Banjar Tergolong Tinggi Posted: 10 May 2012 11:40 PM PDT Ilustrasi (stock.xchg) “Tingginya angka pernikahan dini itu membuat Kabupaten Banjar mendapat sorotan di antara kabupaten dan kota lain di Kalsel,” ungkap Muhammad, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Banjar, Kamis (11/5). Walaupun ia tidak menyebutkan angka yang tercatat, menurutnya pernikahan dini di Kabupaten Banjar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ia mengatakan, beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena ini adalah faktor sosial dan budaya masyarakat, ekonomi, pendidikan, geografis atau psikologis keluarga. “Faktor lain yang cukup mempengaruhi adalah sifat masyarakat Banjar yang tergolong agamis dan mayoritas menganut mazhab Imam Syafi’i, banyak dari mereka berlatar pendidikan klasik atau mendalami kitab kuning,” paparnya. Menurutnya, paham yang dipegang oleh masyarakat membuat mereka akhirnya berprinsip, lebih baik mencegah kerusakan dari pada terlanjur mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Ia menjelaskan, cara yang dapat dilakukan untuk menekan angka pernikahan dini adalah dengan melakukan sosialisasi. Pihaknya telah melakukan sosialiasi tentang pernikahan dini di aula Kantor Badan Kependudukan Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Banjar, Martapura, Rabu kemarin. Acara ini dihadiri juga oleh perwakilan Dinas Sosial, Bagian Kesra, BPS, Departemen Agama Kabupaten Banjar, Bappeda, dan pasangan calon mempelai. Tujuannya agar mereka memiliki kesadaran atas persiapan dalam pernikahan. “Sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran calon mempelai untuk lebih dulu mematangkan usia, fisik, dan mental sebelum memutuskan untuk melangsungkan perkawinan,” katanya. Pemerinrah telah merumuskan usia ideal yang bisa menjadi patokan bagi pasangan calon mempelai untuk siap menjalin hubungan rumah tangga. “Usia ideal berumah tangga sesuai ketentuan BKKBN adalah perempuan mencapai usia 19 tahun dan laki-laki 25 tahun karena usia itu dinilai sudah matang, baik secara fisik maupun emosional,” ujar Aminullah, Kasubbid Analisis Dampak Sosial Ekonomi BKKBN Pusat. (kmp/mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |