artikel asyik online

health beauty care

Kamis, 10 Mei 2012

PsikologiZone.com

PsikologiZone.com


Identitas Seseorang Bisa Hilang Saat Membaca Novel

Posted: 10 May 2012 06:47 AM PDT

Identitas Seseorang Bisa Hilang Saat Membaca Novel

Ilustrasi (stock.xchg)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Saat seseorang membaca novel fiksi, tanpa sadar ia akan masuk dalam dunia karakter dalam cerita tersebut. Seseorang dimungkinkan merubah pikiran dan perilaku sesuai dengan karakter dalam cerita fiksi.

Pernyataan ini merupakan hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Ohio State University dan diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology. Mereka memeriksa apa yang akan terjadi saat orang membaca cerita fiksi. Studi tersebut menemukan bahwa orang akan merasakan emosi, keyakinan, pikiran dan tanggapan internal menyerupai salah satu tokoh karakter pada dirinya sendiri.

Para peneliti mengatakan, walaupun sementara, dalam sebuah kondisi tertentu, hilangnya pikiran seseorang dimasuki oleh karakter fiksi dapat mengubah perilaku di kehidupan nyata.

Penelitian ini melakukan eksperimen yang menemukan bahwa orang yang awalnya mengalami kesulitan mengambil sebuah pilihan, saat ia dihadapkan dengan karakter dalam cerita fiksi, beberapa hari kemudian ia bisa mengambil keputusan itu dengan mudah.

“Hal tersebut dapat mengubah Anda tanpa Anda sadari dengan menggabungkan hidupan Anda dengan tokoh karakter yang Anda baca dalam cerita fiksi,” kata Geoff Kaufman, pemimpin penelitian di Ohio State University seperti dilansir dari medindia, Kamis (10/5).

Kekuatan yang timbul dari sebuah karakter fiksi dapat juga terjadi sepanjang waktu. Kondisi ini bisa terjadi pada orang yang ingin melupakan identitasnya saat membaca novel.

Melalui serangkaian eksperimen, peneliti menyarankan untuk membaca cerita fiksi di balik sebuah cermin. “Semakin banyak Anda diingatkan melalui wujud identitas pribadi, semakin kecil kemungkinan Anda tenggelam ke dalam identitas karakter fiksi yang Anda dibaca,” kata Kaufman. (dtk/mba)


Penyembuhan Trauma Melalui Media Wayang

Posted: 10 May 2012 01:26 AM PDT

Penyembuhan Trauma Melalui Media Wayang

Ilustrasi (kominfo.go.id)

Surabaya, Psikologi Zone – Saat terjadi bencana letusan gunung merapi, Universitas Surabaya mengirimkan relawan untuk mendampingi para korban. Mereka menempati selter Gondang I, Wukirsari, Sleman.

Para relawan menemukan, anak-anak usia TK paling dalam mengalami gangguan traumatis. Namun, sulit menemukan media yang tepat untuk penyembuhan trauma, sekaligus juga bisa digunakan sebagai bahan pendidikan karakter.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Nadia Sutanto berpikir keras menemukan solusinya. Berdasarkan hasil diskusi dari sejumlah dosen dan masukan dari mahasiswa lapangan, akhirnya ditemukan media wayang kulit. Karakter seni wayang dinilai menarik bagi anak-anak dan bisa menjadi jembatan dialog untuk penyembuhan trauma.

“Cara mengajar siswa pendidikan anak usia dini (PAUD) harus segar, unik, dan menyenangkan. Kalau mengajarnya monoton, mereka mudah bosan. Dengan media ajar yang menarik perhatian, materi pelajaran dan pesan-pesan pembangkit semangat dapat ditangkap dengan baik,” kata Nadia di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (9/5).

Lantaran tidak muat untuk membawa satu kotak wayang ke dalam kelas, Nadia memilih membawa empat karakter punakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Masing-masing karakter dipilih karena lebih komunikatif. Materi yang ringan seperti menjaga kebersihan, sanitasi, kesehatan, dan berbakti pada orang tua bisa disampaikan pada anak-anak dengan baik.

“Karakter punakawan itu selengekan, seenaknya sendiri. Karakter yang cair seperti itu sangat penting agar cerita yang kita sampaikan komunikatif dan segar. Anak-anak bisa tertawa mendengar dialog para punakawan. Jadi, walaupun ibunya meninggal, mereka tetap bisa tertawa sejenak di kelas,” terangnya usai menerima penghargaan atas inovasinya.

Pementasan wayang sendiri menggunakan bahasa Indonesia agar mudah dipahami. Pada awalnya, tim Ubaya ini menggunakan bahasa Jawa campuran seperti dalang pada umumnya. Lantaran baik dosen dan anak sulit memahami bahasa Jawa halus, pilihan bahasa Indonesia digunakan.

Bila pertunjukan wayang pada umumnya menggunakan properti seperti lampu dan layar, maka pagelaran wayang di TK ini memakai properti yang bisa menarik perhatian siswa. Bentuknya dibuat sederhana, misalnya menggunakan guntingan-guntingan kerja yang dibuat siswa. Hal ini supaya siswa punya peran dalam pertunjukan, mereka akan betah mengikuti acara hingga berakhir.

Melalui metode tersebut, akhirnya ditularkan kepada guru PAUD di sekitar mengungsian. Namun tidak semua guru mendapatkan pelatihan ini. “Guru dipaksa meningkatkan kemampuan. Sebab, selain menguasai materi, mereka harus memiliki kemampuan mendalang atau mendongeng. Itu tidak mudah,” terangnya.

Melalui hadiah yang dia terima dari Tanoto Foundation, Nadia optimis bisa melatih guru-guru TK ini untuk menguasai metode pengajaran budi pekerja dan trauma healing menggunakan wayang. (jp/mba)


 
Copyright 2010 dummy autoblog. All rights reserved.
© 2011 dummy autoblog | Powered by Blogger | Ping My Blog to : google - yahoo - bing - ask