artikel asyik online

health beauty care

Senin, 09 April 2012

PsikologiZone.com

PsikologiZone.com


Angka Prevalensi Autisme Meningkat di Amerika Serikat

Posted: 09 Apr 2012 05:57 AM PDT

Angka Prevalensi Autisme Meningkat di Amerika Serikat

Ilustrasi (flickr)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Kasus autisme sedang meningkat di Amerika Serikat. Sebelumnya tingkat prevalensi autisme di Amerika Serikat adalah 1 dari 110 anak, namun saat ini meningkat menjadi 1 dari 88 anak Amerika mengalami autisme.

Hal ini merupakan studi terbaru yang hasilnya melebihi perkiraan pemerintah. Prevalensi ini hampir dua kali dari biasanya sejak 5 tahun lalu, dan telah mempengaruhi sekitar satu juta anak dan remaja di Amerika serikat.

Pihak pemerintah bidang kesehatan menandai peningkatan prevalensi autisme ini sebagai bentuk diagnosis yang lebih luas dan lebih baik. Penyebab autisme masing belum bisa dipastikan secara mutlak. Banyak faktor yang dapat membuat angka autisme ini semakin meningkat.

“Kami tidak cukup yakin alasan kenapa kenaikan ini terjadi,” kata Dr Coleen Byle dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat.

Penelitian dan penanganan autisme harus ditekankan lebih besar. "Angka baru ini menunjukkan keadaan darurat bagi kesehatan masyarakat yang menuntut perhatian segera dari pemerintah,” kata Geraldine Dawson, kepala Bidang Advokasi Autisme.

Penelitian oleh Centers for Disease Control dan Prevention (CDC) yang dirilis pada 29 Maret menunjukkan penyelidikan yang paling komprehensif mengenai prevalensi autisme. Peneliti mengumpulkan data dari 14 negara bagian seperti Alabama, Arizona, Arkansas, Colorado, Florida, Georgia, Maryland, Missouri, New Jersey, North Carolina, Pennsylvania, South Carolina, Utah dan Wisconsin.

Para peneliti melihat secara khusus pada anak-anak berusia 8 tahun yang didiagnosis mengalami autistik. Mereka juga memeriksa semua catatan kesehatan dan sekolah secara menyeluruh.

Sebuah laporan sebelumnya pada 2002, diperkirakan ada 1 dari 150 anak mengalami autistik atau gangguan sindrom Asperger. Pada 2006, angka tersebut dikoreksi dengan perbandingan 1 dari 110. Perkiraan rilis pada 29 Maret, berdasarkan data tahun 2008, meningkat 1 dari 88 anak mengalami autisme. (apa/mba)

Cara Berkomunikasi dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Posted: 09 Apr 2012 12:38 AM PDT

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Konsultasi oleh Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum Jombang, direktur dan konsultan pendidikan anak, rekan ahli psikologi di beberapa lembaga, dan pernah menjadi pembicara di berbagai acara seminar, pelatihan dan talk show.

Tentang Uswatun HasanahEmail Uswatun Hasanah

Pertanyaan:

Bila remaja Anak Berkebutuhan Khusus berIQ 70 disaat dia berkomunikasi dengan anak normal n berinteraksi dengan lingkungan, tapi lingkungan malah menyudutkan di sehingga remaja ABK ini kebingungan “bagaimana harus saya berkomunikasi?”. (GO , 22, Mahasiswa)

Jawaban:

Saudara G, saya sangat salut anda sangat peduli dengan anak-anak Autis ini. Kepedulian orang-orang yang ada dillingkungannya sangatah diperlukan untuk mengembangkan kemampuan sosialisasinya, jika lingkungan malah menolaknya apa jadinya mereka ?

Remaja autis ini biasanya mereka memiliki kemampuan bahasa yang berbeda dengan anak normal. Hal pertama yang harus diketahui adalah seberapa banyak kemampuan Ekspresi komunikasi yang dia kuasai, misal kosa kata yang dia kuasai untuk berkomunikasi. Anak-anak ini kadang dapat berkomunikasi secara verbal tetapi kadang sangat kaku susunan kalimatnya, contoh : Remaja Autis ini membeli Roti Bolu di toko maka kata yang dipakai adalah “Beli roti bolu, harga 2000". Itu kata yang diucapkan kepada pembelinya.

Coba dekati dia dan pelajari bagaimana cara dia berkomunikasi nanti akan dengan sendirinya anda paham bagaimana berkomunikasi denganya. Saya tidak dapat memberikan informasi detil karena data yang anda sampaikan juga kurang detil, sebab setiap anak autis memiliki style yang berbeda-beda dalam komunikasi. Demikian masukan saya semoga bermanfaat, terimakasih sudah mempercayai kami.

4 Syarat Perilaku Bisa Disebut Abnormal

Posted: 09 Apr 2012 12:14 AM PDT

4 Syarat Perilaku Bisa Disebut Abnormal

Jennie S Bev (facebook)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Kadang-kadang kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya normal?” Saya selalu berulang-ulang mencuci tangan dengan sabun, walaupun terlihat tidak kotor. Nampaknya saya memiliki apa yang disebut Obsesif-Compulsive Disorder. Dari waktu ke waktu, Anda mungkin bertanya-tanya, apakah saat ini saya “normal”.

“Standar normal atau abnormal tergantung pada masyarakat dimana kita hidup, apakah perilaku tersebut dapat dianggap normal atau abnormal oleh masyarakat,” kata Jennie S. Bev, yang saat ini mengejar gelar Doctor of Psychology di Southern California University, Sabtu (7/4).

Ia menambahkan, dalam budaya Jepang, kehormatan pribadi adalah sesuatu yang serius. Bila kehormatan mereka ternodai oleh diri mereka sendiri, maka bunuh diri layak dilakukan. Berbeda dengan Amerika Serikat, pikiran yang terlintas pertama kali ketika orang bunuh diri adalah depresi klinis.

“Budaya menentukan apakah perilaku seseorang disebut normal atau abnormal. Kata yang mungkin bisa diterima pada perilaku aneh adalah eksentrik. Seorang seniman yang melukis dengan air ludah sendiri, dapat dianggap eksentrik bukan abnormal,” tuturnya yang juga lahir di Jakarta.

Ia mengatakan, “secara umum, empat prasyarat sebuah perilaku bisa disebut abnormal yaitu ketika ada penyimpangan, penderitaan, disfungsi, dan bahaya.”

Jennie menjelaskan lebih lanjut, penyimpangan perilaku dari norma-norma umum di masyarakat bisa dianggap abnormal. Seseorang bisa saja mengalami gangguan kepribadian disosiatif, namun di budaya tertentu ia dianggap kerasukan.

Penderitaan yang dialami oleh individu dan orang disekitarnya menjadi tolak ukur abnomal berikutnya. Misalnya, seseorang bersedia bersepeda ke 100 negara di dunia, selama apa yang dilakukan oleh individu tidak membuat tekanan atau penderitaan pada dirinya dan orang lain, maka itu bisa disebut eksentrik bukan abnormal.

Bentuk abnormal lainnya adalah disfungsi, apakah perilaku tersebut menyebabkan disfungsi dalam kegiatan sehari-hari. Berduka atas kematian saudara, kekasih, atau orang tua bisa berangsur membaik, namun bila sampai membuat individu menarik diri dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari, maka bisa disebut abnormal yaitu mengalami gangguan depresi.

Setiap kali seseorang melakukan tindakan berbahaya pada dirinya atau orang lain, maka itu bisa disebut abnormal. Variabel ini tidak berlaku untuk semua kasus, misalnya pada kasus patologi psikologis tidak semua mengakibatkan bunuh diri atau pembunuhan. Walaupun begitu, tindakan membunuh atau merugikan seseorang jelas tidak bisa diabaikan.

“Dengan memahami apa yang disebut abnormal, kita seharusnya bisa mengamati diri kita sendiri dan orang lain untuk hidup lebih baik,” tutup penulis buku Success with Positive Psychology ini. (pc/ba)

 
Copyright 2010 dummy autoblog. All rights reserved.
© 2011 dummy autoblog | Powered by Blogger | Ping My Blog to : google - yahoo - bing - ask