PsikologiZone.com |
| Sering SMS di Kelas, Pengaruhi Hasil Belajar Mahasiswa Posted: 05 Apr 2012 05:05 AM PDT Ilustrasi (blogspot) “Kita melakukan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa, mahasiswa yang memiliki telepon genggam cenderung terbiasa melakukan pengiriman SMS selama kuliah berlangsung.” kata peneliti dalam studi ini, Fang-Yi Flora Wei, Phd. “Kirim dan terima SMS saat mata kuliah berlangsung membuat perhatian mahasiswa terganggu dan mengakibatkan fungsi kognisi dalam belajar tidak efekif,” tambahnya yang juga profesor di Universitas Pittsburgh, Bradford. Penelitian ini dilakukan pada sejumlah mahasiswa di Universitas Pittsburgh dengan mengisi kuesioner anonim pada akhir semester. Mahasiswa diminta untuk memberikan jawaban berapa banyak rata-rata SMS yang dikirim atau mereka terima selama kelas berlangsung. Sulit untuk mengetahui dampak SMS secara langsung terhadap hasil belajar mahasiswa, Wei mengatakan, ia dan rekan peneliti lain memilih menggunakan analisis jalur korelasi antara SMS dengan hasil belajar sebagai metode penelitian dalam mengungkap hubungan antar dua variabel. Kuesioner tersebut juga mengatakan bahwa mahasiswa yang sering mengirim sms selama kelas berlangsung, kurang bisa mempertahankan fokus perhatian pada dosen mereka. “Mahasiswa mungkin percaya diri bahwa mereka mampu melakukan multitasking selama kelas berlangsung, seperti mendengarkan kuliah sambil melakukan SMS secara bersamaan,” kata Wei. “Pokok pertanyaan yang perlu diperhatikan adalah seberapa baik mereka bisa mempertahankan fokus perhatian mereka pada dosen di kelas, bukan seberapa hebat mereka bisa melakukan multitasking,” imbuhnya. Wei menyarankan, Mahasiswa harus mempertimbangkan kembali untuk membatasi SMS selama kelas berlangsung. Dia tidak berpikir bahwa larangan SMS selama kelas berlangsung akan efektif diterapkan dalam mengurangi hilangnya konsentrasi dan tetap menjaga fokus perhatian mahasiswa. (sd/mba) |
| 63 Persen Anak Autistik Mengalami Bullying Posted: 04 Apr 2012 09:44 PM PDT Hari Autisme Internasional 1 April, Melbourne (flickr) Bullying merupakan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang pada pihak lain. Kekerasan bisa berupa fisik dan psikologis, seperti memukul, menampar, memalak, memaki, mengejek, menggosip, membodohkan, mendiskriminasi dan sebagainya. Para peneliti dari Kennedy Krieger Institute di Baltimore dan Universitas Johns Hopkins melakukan survei terhadap 1.200 orangtua yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), dan menemukan 63 persen anak-anak telah mengalami bullying. Para peneliti juga menemukan ada potensi bullying oleh saudara mereka sendiri. Sementara itu, setiap anak yang mendapat bullying mengalami gangguan emosi yang signifikan, anak autistik bisa mengalami ledakan agresifitas saat mereka marah, dan survei menemukan beberapa anak sengaja dipicu ke kondisi tersebut. Survei ini dilakukan oleh Kennedy Krieger Institute dalam sebuah Jaringan Autisme Interaktif (IAN), yaitu penelitian autisme online terbesar di Amerika Serikat. “Hasil survei menunjukkan kita membutuhkan peningkatan kesadaran, terutama kesadaran pihak sekolah, keluarga dan anak-anak saat menghadapi bullying. Kami berharap bahwa penelitian ini akan membantu untuk memerangi penindasan,” kata Dr Paul Hukum, direktur Proyek IAN di Kennedy Krieger Institute, dalam sebuah pernyataan, (30/3). Survei ini melaporkan temuan menarik lainnya. Lima puluh persen anak autisme kemungkinan mengalami bullying sekitar 50 persen di sekolah inklusi, dibandingkan bila mereka masuk dalam sekolah pendidikan khusus. Bullying paling buruk terjadi saat anak autistik memasuki kelas 5 hingga 8 di sekolah inklusi. 49 persen anak autistik menilai diri mereka telah diintimidasi. Dr Guillermo Montes, profesor di Ralph C. Wilson Jr School of Education di St John Fisher College dan direktur penelitian di Children Institute di Rochester New York, telah menerbitkan penelitian tentang bullying di antara anak-anak autistik. “Gangguan sosial seperti ini membuat seorang anak autistik dapat merasakan intimidasi, gejala ini tidak pernah dibenarkan,” kata Montes. Montes berpikir bahwa banyak masalah yang harus dilakukan dengan tidak efektifnya kebijakan anti-bullying yang diberlakukan oleh pihak sekolah. Perlu sebuah pendekatan yang benar-benar mengajarkan anak bagaimana berperilaku yang baik dan menghormati satu sama lain. (cbs/mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |