PsikologiZone.com |
- Orang Tua Perlu Persiapan Untuk Mengadopsi Anak
- Tidak Sesuai Minat, Salahkah Memilih Jurusan?
- PBB: Tercatat 2,4 Juta Korban Perdagangan Manusia
| Orang Tua Perlu Persiapan Untuk Mengadopsi Anak Posted: 03 Apr 2012 10:30 PM PDT Ilustrasi (blogspot) Bagi pasangan suami istri, memiliki anak bisa melalui proses kehamilan. Kenyataannya tidak semua pasangan ditakdirkan memiliki seorang anak dari buah cinta mereka. Ketika itu terjadi, maka adopsi bisa menjadi solusi. Menurut Wieka Dyah Partasari, psikolog dari Universitas Atmajaya, bila suami istri ingin memilih jalan untuk mengadopsi anak, maka harus dilakukan sesuai kesepakatan bersama. “Adopsi menjadi pilihan mereka di antara berbagai alternatif yang ada. Harapan ketika mengadopsi ini juga sudah cukup realistis,” ujar Wieka, Kamis (29/3). Menurut Wieka, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi pasangan yang ingin mengadopsi anak. Pertama adalah kesiapan mental dari kedua pasangan. Menjadi orang tua adalah tugas dan tanggung jawab yang mudah bila sekedar dibayangkan, namun kenyataannya tidak. “Memiliki anak itu adalah suatu perubahan yang membawa banyak konsekuensi. Segala macam perubahan hidup akan sulit dijalani kalau belum siap,” tutur ibu dua anak itu. Poin ke dua yang perlu diperhatikan adalah saat kemudian hari mereka ditakdirkan memiliki anak kandung. Kedua pasangan harus siap menghadapi kondisi psikologis untuk tidak menyisihkan anak satu dengan lainnya. Apalagi bila anak yang sudah diadopsi menjadi korban ketidakadilan. Selain persiapan psikologis bagi kedua pasangan, yang perlu diperhatikan adalah mengumpulkan sejumlah informasi. Perlu bagi pasangan suami istri untuk mengetahui prosedur adopsi dari lembaga formal. “Orangtua harus punya informasi yang lengkap. Dari situ mereka bisa menimbang apakah memang sepakat dengan informasi tersebut,” tambah Wieka yang juga dosen psikologi klinis. Keluarga besar juga perlu mengetahui kehadiran anak adopsi. Hal ini penting bagi perkembangan anak dan peran keluarga besar dalam hubungannya dengan anak. “Ini sangat khas dengan budaya kita. Keluarga besar sesuatu yang penting. Anak akan tumbuh lebih mudah dan optimal kalau keluarga besar tahu. Calon kakek dan nenek bisa menerima dengan gembira,” paparnya. Persiapan yang lebih berat bisa berlaku bagi orang tua tunggal, baik yang telah bercerai maupun belum menikah. Beban orang tua tunggal memang lebih berat bila dibandingkan dengan dua pasangan suami dan istri. (dtk/mba) |
| Tidak Sesuai Minat, Salahkah Memilih Jurusan? Posted: 03 Apr 2012 09:32 PM PDT Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi
Tentang Israele Euaggelion – Email Israele Euaggelion
Pertanyaan: Ass. Kak aku mau curhat ni. Sekarang aku duduk di kelas 2 SMA , jurusan IPA. Sebenarnya IPA bukan keahlian dan bukan keinginanku, tapi entah kenapa waktu pemilihan jurusan dan aku dinyatakan masuk di jurusan IPA aku langsung ngambil jurusan itu. Awal-awal bulan aku masih enjoy saja dengan IPA, tapi akhir-akhir ini aku mulai terganggu dengan ulangan2 yang bersangkutan dengan IPA, kadang kalau aku dapat nilai rendah pada saat ulangan, aku nangis. Padahal aku udah belajar keras,kadang2 juga aku stres dengan pelajaran IPA. Aku harus gimana kak? (S, 16, siswa) Jawaban: Dear S, Setiap keputusan yang akan kita ambil harus dipertimbangkan secara matang, baik-buruk atau kelebihan-kekurangannya bagi kita nantinya. Kemudian, kita pun harus mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang akan kita ambil. Namun demikian, jika sebuah keputusan sudah terlanjur kita ambil, kita tidak dapat kembali ke masa lalu untuk mengulangnya. Begitu pula dengan masalah yang sedang kamu hadapi saat ini. Sebelumnya, kamu perlu mempertimbangkan jurusan yang disarankan oleh pihak sekolah untuk kamu, yaitu jurusan IPA. Apabila kamu merasa tidak memiliki minat dan kemampuan yang baik dalam bidang tersebut, sebaiknya kamu menolak dan mendiskusikannya kembali dengan pihak sekolah. Karena yang menjalani adalah diri kamu sendiri dan yang paling mengetahui kemampuan tersebut juga diri kamu sendiri. Jadi, tidak ada pihak yang dapat disalahkan untuk pemilihan penjurusan, karena pihak sekolah tidak dapat memaksakan kehendaknya apabila kamu tidak menyutujui saran mereka untuk mengambil jurusan IPA. Namun demikian, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang perlu disesali :) Saat ini yang perlu kamu lakukan adalah bertanggungjawab dengan keputusan yang telah kamu ambil. Ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi masalah ini. Pertama, diskusikan masalah ini dengan orang tua dan guru, bahwa kamu mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran yang berhubungan dengan IPA. Namun, kamu juga perlu memiliki kemauan untuk menguasai pelajaran tersebut. Kepada guru, Mintalah waktu tambahan kepada mereka untuk mengajarkan beberapa pelajaran. Hal tersebut juga dapat dilakukan kepada teman dekat (yang kamu anggap mampu dan cerdas) agar mereka mau menjelaskan pelajaran yang tidak kamu mengerti. Selain itu, kamu juga bisa mengikuti les atau bimbingan belajar di luar sekolah. Usahakanlah untuk mengisi waktu luang untuk belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Dengan belajar dan berlatih, maka kamu akan memiliki kemampuan untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Untuk hal ini, kamu perlu mengorbankan waktu luang kamu untuk berusaha lebih banyak belajar dan belajar. Jika manusia ingin mendapatkan hasil yang (ter)baik di dalam hidupnya, maka ia perlu mengorbankan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi kebahagiannya saat ini. Kedua, ubahlah cara pandang kamu mengenai pelajaran tersebut bahwa “pelajaran tersebut sulit dan tidak dapat saya pahami sehingga saya mendapat nilai yang tidak memuaskan.” Pelajaran tersebut akan terasa mudah apabila kamu mempelajarinya dengan tekun dan bersungguh-sungguh, yaitu memperhatikan penjelasan guru, bertanya kepada guru dan teman ketika kurang memahaminya, mengerjakan tugas dan PR yang diberikan oleh guru, mengulangi pelajaran di rumah, dan kembali belajar ketika akan menghadapi ujian. Dengan demikian, kamu pun akan memahami pelajaran tersebut dan kamu pasti akan mendapatkan nilai baik. Ketiga, stres dialami karena kamu merasa takut tidak dapat mengerjakan tugas atau ujian di sekolah. Oleh karena itu, sebelum dan sesudah belajar serta menghadapi ujian, sebaiknya dimulai dan diakhiri oleh doa agar Tuhan membantu dan menolong. Tuhan juga melihat usaha yang telah kamu lakukan, yaitu belajar dengan tekun. Dengan demikian, Ia pun akan senantiasa menolong umat-Nya yang bersungguh-sungguh menjalani tanggung jawabnya. Kemudian, pada saat ujian akan berlangsung, kamu perlu meyakini diri kamu sendiri bahwa sebelumnya kamu telah belajar dan telah memahami serta menguasai pelajaran tersebut dengan baik. Jadi, kamu pun akan mampu mengerjakan soal-soal ujian karena kamu pun telah mampu mengerjakan soal latihan di rumah. Hal tersebut akan mengurangi stres atau tekanan yang kamu rasakan di dalam diri kamu. |
| PBB: Tercatat 2,4 Juta Korban Perdagangan Manusia Posted: 03 Apr 2012 09:10 PM PDT Ilustrasi (google) Yuri Fedotov, kepala Kantor PBB untuk Narkoba dan Kriminal pada pertemuan Majelis Umum mengatakan, 17 persen korban diperdagangkan secara paksa. Ia mengatakan, sebanyak 32 milyar dolar telah dihasilkan setiap tahunnya oleh pelaku perdagangan manusia, dan dua dari tiga korban adalah perempuan. “Memerangi kejahatan perdagangan manusia adalah proporsi yang besar. Sudah ada 2,4 juta orang menderita karena kejahatan yang memalukan dan merendahkan ini,” kata Fedetov. Menurut kantor Fedetov, hanya ada 100 korban perdagangan yang pernah diselamatkan. Fedetov menyerukan tanggapan lokal, regional dan internasional yang terkoordinasi untuk menegakkan hukum dengan tindakan memerangi kekuatan pasar perdagangan manusia di banyak negara. Aktris Mira Sorvino, duta PBB melawan perdagangan manusia mengatakan, “perbudakan modern ini dikalahkan oleh perdagangan obat ilegal, sedikit uang dan kemauan politik untuk memerangi perdagangan manusia.” Sorvino menambahkan, kurang ada peraturan yang kuat dan pelatihan bagi penegak hukum dalam memerangi perdagangan manusia. Bahkan di Amerika Serikat, hanya 10 persen dari tenaga kepolisian yang memiliki protokol untuk menangani perdagangan manusia. Presiden Majelis Umum Nassir Abdulaziz Al-Nasser dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mendesak pada donor untuk berkontribusi memberikan bantuan pada korban perdagangan manusia. Pada awal pertemuan, Fedetov mengatakan dana sukarela yang dijanjikan oleh donor untuk korban perdagangan manusia sekitar satu juta dolar, namun masih terkumpul 47 ribu dolar. Ia menghimbau kepada para donor untuk segera melunasi janji mereka. Pada akhir pertemuan, Al-Nasser mengumumkan tiga perjanjian donor baru telah didapatkan, yaitu 200 ribu dolar dari Australia, 30 ribu dolar dari Rusia, dan 30 ribu dolar dari Luksemburg. Ia mendorong anggota PBB lainnya mencontoh apa yang dilakukan oleh tiga negara tersebut. (ut/mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
