PsikologiZone.com |
- Ubah Diagnosis Autisme, Program Kesehatan Jadi Terbatas
- Menyikapi Orang yang Suka Memancing Emosi
- Orang Tua Perlu Jadi Moderator Tontonan Anak
| Ubah Diagnosis Autisme, Program Kesehatan Jadi Terbatas Posted: 03 Apr 2012 05:33 AM PDT Patient Care Kennedy Krieger Institute “Kami pikir tidak perlu mengubah kriteria diagnosis autisme,” kata Amy Vaughan Van Hecke, direktur Klinik Autisme Marquette. Perubahan diagnosis ini akan membuat anak-anak yang saat ini didiagnosis mengalami autisme akan kehilangan pelayanan kesehatan dan program keterampilan sosial. Van Hecke berpendapat, langkah untuk mempersempit kriteria diagnosis autisme dimotivasi oleh ketidakmampuan mencari tahu penyebab autisme dan faktor risiko yang menyertai. Apalagi ada sejumlah keinginan untuk menurunkan angka prevalensi autisme. Saat ini angka tersebut menyatakan, 1 dari 88 anak-anak berpotensi mengalami autisme. Tentu saja beberapa negara diuntungkan karena tidak lagi mengeluarkan anggaran untuk perlindungan asuransi panyandang autisme. Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) sedang mempertimbangkan perubahan kontroversial ini. Mereka menunggu hingga perubahan diagnosis autisme itu selesai pada edisi kelima buku manual diagnosis dan statistik gangguan mental (DSM-V). Sebuah revisi besar pertama sejak 17 tahun terakhir. “Perubahan diagnosis tersebut tidak boleh merubah poin kriteria yaitu terbatasnya minat dan perilaku repetitif,” kata Van Hecke. Bila ini dihilangkan, anak-anak yang mengalami perilaku repetitif dan memiliki minat terbatas tidak akan didiagnosis dengan autisme. Padahal anak dengan perilaku repetitif dan memiliki minat terbatas bukan berarti tidak memiliki potensi autisme. “Ini seperti analogi yang mengatakan, seseorang tidak dapat didiagnosis dengan diabetes kecuali mereka mengalami obesitas, tapi kita semua tahu ada orang-orang yang tidak obesitas bisa mengalami diabetes,” kata Van Hecke. Aosiasi psikiatri dan akademi pediatrik Amerika mencatat bahwa definisi autisme terakhir dibuat pada tahun 1994. Asosiasi ini juga menapis kekhawatiran yang beredar di berbagai kalangan mengenai perubahan ini. “Sekarang kita mengetahui jauh lebih banyak dibanding pada 1994. Jadi ada kemungkinan bahwa definisi terbaru benar-benar akan lebih baik untuk anak-anak dan lebih baik untuk keluarga,” kata Susan Hyman, ketua subkomite autisme dari akademi pediatrik Amerika. (apa/mba) |
| Menyikapi Orang yang Suka Memancing Emosi Posted: 03 Apr 2012 02:04 AM PDT Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi
Tentang Uswatun Hasanah – Email Uswatun Hasanah
Pertanyaan: Saat usia remaja ada orang yang selalu menyerang saya secara psikologis dengan cara membicarakan saya dan mentertawakan saya didepan umum. Awalnya itu merupakan suatu yang hanya berupa perasaan saya saja, tapi kemudian orang itu sadar bahwa saya orangnya sangat perasa. Maka setiap kali bertemu dengan orang tersebut, dia pasti akan selalu melakukan hal sama untuk memancing rasa malu dan marah saya. Dari situ saya sering merasa takut dibicarakan orang, padahal itu hal yang wajar, bagaimana cara menanggulangi cara berpikir saya ini. Tolong saya. (MR, 18, Mahasiswa) Jawaban: Saudaraku yang baik, karena peristiwa di masa lalu membuat anda menjadi orang yang kurang percaya diri dan sangat sensitive (mudah sekali tersinggung), yang perlu anda lakukan adalah menanamkan konsep kepercayaan diri yang baik dalam diri anda, bahwa anda adalah orang yang layak untuk dihargai oleh siapapun. Jangan tanggapi dengan amarah tanggapi dengan ketenangan sikap, dengan bersikap tenang dan tidak meresponya itu sudah cukup memperlihatkan bahwa anda lebih bernilai daripada yang membicarakan anda. Sirik tanda tak mampu indvidu yang dengan penuh kekurangan orang akan senantiasa mencela dan menilai orang lain, tetaplah tenang dan berbuat baiik sebab kebaikan perilaku itu lebih bernilai daripada apapun. Tuhan akan senantiasa berpihak pada kebaikan percayalah,jadilah diri sendiri dan teruslah berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari,jangan tengok orang yang senantiasa merendahkanmu. Jangan takut dibicara orang lain karena mungkin sebagai koreksi buat kita tetapi jika itu merendahkan kita jangan hiraukan tetaplah menjadi dirimu sediri yang dengan berani menatap masa depan. Tetap semangat saudaraku, demikian masukan dari saya semoga bermanfaat. Salam |
| Orang Tua Perlu Jadi Moderator Tontonan Anak Posted: 03 Apr 2012 12:27 AM PDT ilustrasi (vvn) Menurut Psikolog bidang psikologi klinis, anak dan dewasa, Dani Tri Astuti, M.Psi mengatakan, langkah paling mudah dan konkrit yang dapat dilakukan adalah peran orang tua sebagai moderator. Setiap tayangan perlu disesuaikan dengan usia perkembangan anak. “Meluangkan waktu untu menemani anak dalam menonton televisi, dan ajak anak untuk berdiskusi mengenai tontonan tersebut, sehingga membantu anak untuk berpikir kritis, kemampuan analitis bekerja, dan penanaman norma juga dapat dilakukan sehingga setiap anak memiliki penghayatan norma yang baik,” tuturnya, saat dihubungi Psikologi Zone, Jumat (31/3) Pendampingan dan penanaman nilai moral sejak dini oleh orang tua membuat generasi muda dapat lebih bijak menyaring informasi yang pantas mereka terima. “Apabila modal ini telah tertanam kepada anak-anak sebagai generasi muda, maka betapa derasnya informasi yang didapatnya, ia kan menyaring dengan sendirinya, mana informasi yang memang pantas ia terima , ia dijadikan sumber referensi, atau pun informasi yang di acuhkannya karena informasi tersebut dianggapnya tidak memberikan keuntungan baginya,” papar Dani Tri Astuti. Idealnya, penanggulangan masalah sosial seperti ini diperlukan kerja sama antara instansi terkait dengan masyarakat. Menurut Dani, pemberitaan hendaknya dikemas dalam bentuk lebih edukatif dan menarik, sehingga mengajarkan masyarakat Indonesia untuk berpikir lebih logis dan bijak. Pola pikir masyarakat tidak terkotak-kotak dan dapat terintegrasi dengan baik, sehingga analisa tepat sasaran, dengan kata lain informasi yang ditayangkan tidak membuat masyarakat menjadi salah tangkap. (mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
