PsikologiZone.com |
- Psikosomatis, Gangguan Psikis Pengaruhi Kesehatan Fisik
- Menemukan Minat di Bidang Psikologi
- Masyarakat Kurang Bijak Menyikapi Tayangan Televisi
| Psikosomatis, Gangguan Psikis Pengaruhi Kesehatan Fisik Posted: 02 Apr 2012 07:49 AM PDT Ilustrasi (allaccesslive) “Secara umum, sebenarnya semua penyakit adalah psikosomatis. Artinya, setiap penyakit memiliki pendekatan psikosomatis atau sering dikenal sebagai biopsikososial,” ungkap Dr Andri, SpKJ, Pengajar Psikiatri di Fakultas Kedokteran UKRIDA, Sabtu (31/3). Setiap penyakit memiliki sisi biologi, psikologi dan sosial. Penderita yang pernah mengalami penyakit stroke, rentang mengalami depresi, namun depresi itu sendiri bisa kembali menyebabkan stroke. Siklus ini akan tetap ada sepanjang seseorang tidak bisa mengontrol kondisi psikis. “Kasus ini sering dialami dan terjadi juga pada keluarga saya. Om saya mengalami gejala depresi setelah kena stroke sehingga terkena stroke lagi dan akhirnya meninggal saat kena stroke yang kedua. Jadi, kami melihat gangguan jiwa itu sangat erat hubungannya dengan gangguan fisik,” kata dr Andri. Sampai saat ini masih belum ada dokter atau pasien yang menyadari akan adanya pengaruh kondisi kejiwaan dengan munculnya penyakit medis. Dr Andri bercerita pernah menangani pasien yang sudah 5 tahun mengalami gejala psikosomatis, namun keluhan itu berpindah-pindah, dari jantung, paru-paru dan seterusnya. Pengobatan medis dilakukan hingga ke luar negeri, namun tidak ditemui penyebab fisiologis. Ternyata, penyebab keluhan fisik tersebut diketahui dari kondisi kejiwaan yang terganggu. “Dasar gangguan psikosomatis itu kan depresi dan cemas. Akhirnya pasien tahu kalau sistem otak kacau, maka pikiran, perasaan dan perilaku juga ikut ngaco. Sistem otak kacau karena disebabkan stres, stres itu disebabkan lingkungan dan genetik. Gangguan ini berputar-putar dan kita harus memotong siklus itu,” papar dr Andri. (dtk/mba) |
| Menemukan Minat di Bidang Psikologi Posted: 02 Apr 2012 02:53 AM PDT Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi
Tentang Dani Tri Astuti – Email Dani Tri Astuti
Pertanyaan: Selamat sore ibu .. Saya Nia .. saya salah satu mahasiswa psikologi di universtitas swasta di jakarta. saya mau bertanya. jujur.. Saya bingung dengan jalan yang saya ambil. dulu waktu smp saya ingin bercita” jadi psikolog karena dorongan teman. Tetapi semakin saya menjalaninya saya berfikir, kelak saya setelah lulus kemana saya akan pergi? Jawaban: Dear N… Kamu bingung dan tidak tahu harus bersikap apa di tambah lagi kamu merasa tidak ada pelajaran yang melekat, hal itu wajar karena kamu masih belum menemukan minat kamu dan kamu belum menentukan gol / tujuan kamu. Nah, karena waktu terus berjalan, mulai dari sekarang kamu mulai lebih peka untuk mencari bidang apa yang paling kamu minati, mulai rajin mencari jurnal penelitian, dan tidak segan-segan ke perpustakaan untuk melihat koleksi penelitian yang sudah diteliti di universitas. Saya yakin, setelah kamu mengetahui bidang yang kamu sukai, maka judul skripsi akan mudah terbentuk dan jangan lupa diskusikan juga dengan dosen kamu. “Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menullislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.” |
| Masyarakat Kurang Bijak Menyikapi Tayangan Televisi Posted: 01 Apr 2012 11:34 PM PDT Ilustrasi (flickr) Hal ini disampaikan oleh Psikolog bidang psikologi klinis, anak dan dewasa, Dani Tri Astuti, M.Psi saat dihubungi oleh Psikologi Zone, Jumat (31/3). “Penayangan televisi saat ini, saya merasakan dilema. Dimana televisi bila digunakan secara tepat guna, akan banyak berdampak positif, seperti bertambahnya informasi sehingga menambah wawasan. Hanya saja saat ini, masyarakat belum mengontrol diri secara bijak,” ungkapnya. Keberadaan media televisi yang dijadikan sarana informasi bagi masyarakat tidak ditelaah mana yang baik dan mana yang tidak baik, meskipun sudah diberikan tanda setiap penayangan seperti "BO" (bimbingan orang tua), "D" untuk tontonan khusus dewasa. “Masyarakat membiarkan tontonan yang diperuntukan orang dewasa bisa ditonton secara bebas oleh anak-anak. Tidak hanya itu saya juga menyayangkan pemberitaan di televisi, juga menggunakan kata-kata yang vulgar tidak di kemas lebih edukatif,” paparnya. Dani Tri Astuti memberikan contoh pemberitaan yang kurang tepat ditonton oleh anak-anak yang masih minim dalam proses analisa dan penghayatan moral. Saat pemberitaan siang hari tentang "perampok yang membagikan hasil rampokan pada orang miskin" dibandingkan dengan koruptor, mana yang lebih baik? “Jika yang menonton orang dewasa, ia akan memproses informasi tersebut kemudian menganalisa dan disesuaikan dengan norma yang menjadi value-nya maka pemberitaan seperti itu tidak akan berarti, sekarang bagaimana dengan pemikiran anak-anak, dimana proses analisa dan penghayatan akan norma belum berkembang dengan optimal, bisa saja kesimpulan mereka adalah lebih baik menjadi perampok dibandingkan dengan menjadi koruptor,” paparnya. Perkembangan generasi muda sudah berubah dan terjadi pergeseran norma. Pergeseran norma-norma yang berlaku di masyarakat dapat diamati dari gaya hidup dan perilaku remaja saat ini. Bahkan lagu anak-anak juga ikut digeser oleh lagu dewasa. Anak-anak terlihat gembira bersama-sama menyanyikan lagu dewasa. Tayangan televisi menjadi positif bila disikapi dengan bijak, baik dari pemilik stasiun televisi, maupun masyarakat sebagai penonton. (mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
