artikel asyik online

health beauty care

Sabtu, 31 Maret 2012

PsikologiZone.com

PsikologiZone.com


Terapi Seni Bisa Membantu Mengatasi Tekanan Psikologis

Posted: 31 Mar 2012 12:11 AM PDT

Terapi Seni Bisa Membantu Mengatasi Tekanan Psikologis

Prof. Dr. Evelin Witruk (ugm)

Yogyakarta, Psikologi Zone – Teknik terapi psikologi kian berkembang, mulai dari terapi humanistik, konseling, kognitif, hingga terapi perilaku. Bahkan, baru-baru ini muncul terapi seni (art therapy) yang dikembangkan oleh Prof.Dr.Evelin Witruk, peneliti dan psikolog dari Institute for Psychology bagian Pendidikan dan Psikologi Rehabilitasi, Faculty of Biosciences, Pharmacy, and Psychology di Universitas Leipzig, Jerman.

Terapi tersebut mampu memberikan bantuan psikologi bagi mereka yang mengalami masalah dan tekanan hidup, terutama mereka yang sulit berkomunikasi secara verbal.

Prof Witruk membagikan wawasan dan pengalamannya pada para mahasiswa dan profesi psikolog yang hadir dalam acara workshop di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (26/3), rilis UGM.

Menurut Dr.M.G.Adiyanti, Ketua Program Studi Magister Psikologi Profesi, Fakultas Psikologi UGM, mengatakan bahwa terapi seni seperti ini sangat berguna bagi pengembangan terapi psikologi.

"Kebetulan Witruk ini dalam mengembangkan art therapy lebih menekankan kepada painting dan drawing," kata Adiyanti.

Saat ini baik kalangan mahasiswa ataupun profesi psikolog masih mempelajari pendidikan dan pelatihan terapi konvensional yang dilakukan di tingkat individu maupun kelompok.

Adiyanti menambahkan, terapi seni tersebut sudah dikembangkan oleh Witruk dan bisa digunakan dalam penanganan korban bencana di Indonesia.

“Terapi seni yang dilakukan kepada anak-anak korban tsunami Aceh ini cukup berhasil memulihkan kembali kondisi psikis mereka pasca Tsunami.” papar Adiyani

Terapi seni juga bisa terapkan dan dikembangkan di Indonesia karena sifatnya yang bebas budaya. Melalui gambar, ahli psikologi dapat menilai dan mengetahui apa persoalan psikologis yang dialami oleh seseorang.

"Bisa terhadap anak-anak, remaja hingga orang tua. Misalnya mereka yang bisa menggambar dan tidak bisa menggambar akan terlihat persoalan psikologi yang tengah dihadapi sehingga segera dicari pemecahannya,"tegas Adiyanti.

Rencana ke depan, workshop juga akan memberikan pelatihan yang lebih intensif pada mahasiswa dan profesi psikolog agar lebih menguasahi teknik terapi psikologi melalui seni. (mba)

Ujian Nasional Makin Dekat, Siswa Makin Tertekan

Posted: 30 Mar 2012 07:01 PM PDT

Ujian Nasional Makin Dekat, Siswa Makin Tertekan

Ilustrasi (lupitadewi)

Bandung, Psikologi Zone – Ujian Nasional (UN) sudah menjadi momok menakutkan bagi siswa sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga menengah atas. Setiap tahun, masyarakat dipertontonkan dengan banyaknya tekanan mental yang dialami oleh siswa peserta UN. Ironisnya, justru sedikit orang tua yang menyadari hal ini dan melakukan konsultasi ahli.

Sampai saat ini lembaga psikologi belum mampu mendata ada berapa banyak jumlah siswa yang mengalami tekanan mental saat menjelang UN. Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Temi Damayanti, S.Psi, M.PSi mengatakan guru menjadi peran penting dalam menjaga kondisi mental siswa.

Bukan hanya orang tua, guru kadang juga tidak terlalu banyak memahami kondisi mental siswa. Terbukti mereka justru menjejali anak didiknya dengan soal-soal yang lebih intens mengejar kelulusan.

"Tetapi guru tidak melihat betapa tertekannya anak saat mengerjakan tugas itu," tutur Temi, Kamis (29/3/12)

Kondisi ini, Temi duga berasal dari kepanikan yang dialami juga oleh para guru. Kepanikan membuat pihak sekolah hanya memikirkan tanggung jawab mereka untuk meluluskan, namun mengesampingkan kondisi kejiwaan anak.

Peran guru Bimbingan Konseling/Bimbingan Penyuluhan (BK/BP) memiliki peran besar dalam menyeimbangkan antara kondisi tertekan dengan pelepasannya.

"Sebab guru BK/BP bukan polisi sekolah yang melakukan tindakan bila ada siswa bermasalah. Peranan terpenting baginya adalah memotivasi minat belajar siswa," kata Temi.

Menurut Temi, pendidikan sekolah di Indonesia masih cenderung mengutamakan aspek kognitif dalam pembelajaran. Nilai kepribadian dan karakter sedikit sekali diperhatikan.

Pendidikan yang hanya mengandalkan aspek kognitif membuat kondisi mental siswa tertekan. Anak kurang belajar mengatasi masalah sulit, termasuk saat UN akan tiba. (pr/mba)

 
Copyright 2010 dummy autoblog. All rights reserved.
© 2011 dummy autoblog | Powered by Blogger | Ping My Blog to : google - yahoo - bing - ask