PsikologiZone.com |
- Prihatin, Aksi Demo Menyisakan Trauma Bagi Siswa PAUD
- Banyak Tekanan Oleh Atasan dan Sistem Kerja
- Ibu Bekerja, Fokus Karir atau Anak
| Prihatin, Aksi Demo Menyisakan Trauma Bagi Siswa PAUD Posted: 30 Mar 2012 04:06 AM PDT Ilustrasi (tmp) Aksi bentrokan demonstran dan aparat, hingga penutupan jalan, membuat banyak siswa memilih tidak keluar dan diam di dalam rumah. Bentrok membuat kondisi psikologis siswa Pusat Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) PDW UNM Jalan Mapala dan siswa SD Kompleks IKIP Jalan AP Pettarani mengalami trauma. Sejumlah siswa mengaku takut saat melihat aksi demo dan bentrok yang terjadi beberapa hari ini. Sri Najmuddin, Kepala TK PAUD Melati mengatakan, demo penutupan jalan berdampak pada banyaknya siswa yang tidak masuk sekolah. “Dari 150 siswa yang terdaftar di TK kami, yang tidak datang sekolah karena takut sekitar lima puluh persen atau 75 orang. Mungkin orang tua mereka takut, karena memang banyak siswa kami yang rumahnya itu jauh dari sekolah,” ungkap Sri. Kondisi yang sama terjadi di SD Kompleks IKIP 1 Makassar. Winda Natsir, kepala sekolah mengaku memulangkan siswanya lebih awal dan otomatis jam pelajaran jadi terganggu. “Utamanya yang kelas-kelas bawah itu, seperti kelas satu sampai kelas empat mereka sangat ketakutan saat terjadi baku lempar,” tutur Winda. Harlina Hamid, Psikolog UNM menjelaskan bahwa kondisi psikologis anak mudah terpengaruh oleh lingkungan. Rasa takut bagi anak mudah dibentuk karena daya imajinasi mereka mudah berkembang. Mereka belum bisa menangkap kondisi lingkungan yang sebenarnya seperti orang dewasa. “Ini jelas berpengaruh terhadap konsentrasi belajar mereka. Anak itu butuh kondisi yang fun ketika akan belajar, sehingga jika terjadi situasi yang mencekam mereka kesulitan belajar dan bahkan bisa berujung pada trauma dan stres,” papar Harlina. Mahmud BM, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar mengaku telah menerima konfirmasi mengenai banyak siswa tidak hadir karna bentrok demonstran. Belum ada tindakan pasti namun beliau hanya menghimbau agar siswa datang lebih awal dan pulang tidak melewati lokasi demo berlangsung. (fjr/mba) |
| Banyak Tekanan Oleh Atasan dan Sistem Kerja Posted: 29 Mar 2012 07:42 PM PDT Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi
Tentang Israele Euaggelion – Email Israele Euaggelion
Pertanyaan: Saya bekerja di sebuah sekolah menengah pertama selama kurang lebih 7 tahun. saya tidak merasa nyaman dengan pekerjaan sekarang ini. banyak tekanan dari atasan dan sistem (krn saya PNS). Saya ingin mengajar sesuai dengan kemampuan siswa. sering saya bekerja bertentangan dengan hati dan pemikiran. Saya pernah konsultasi untuk mutasi ke bagian struktural, tp diminta menjalani selama dua tahun terlebih dahulu. sekarang sudah satu tahun berjalan. Apakah saya bermasalah dengan pemilihan pekerjaan? (N, 30, Guru) Jawaban: Dear Ibu Nuraini, Dengan pengalaman kerja yang cukup lama, artinya Anda menikmati pekerjaan sebagai seorang guru. Selain itu, Anda juga terlihat tidak memiliki masalah dengan pekerjaan yang Anda pilih. Namun, selama ini yang menjadi kendala di dalam pekerjaan Anda, yaitu tekanan dari atasan dan sistem kerja. Hal tersebut yang membuat Anda merasa tidak nyaman dan pada akhirnya Anda berpikir telah salah memilih pekerjaan. Saat ini, yang perlu Anda lakukan adalah melakukan kilas balik terhadap keputusan yang akan Anda ambil mengenai pekerjaan ini. Apakah motivasi Anda memilih dan mengambil pekerjaan ini Apakah sebelumnya Anda telah mempertimbangkan masalah yang akan dihadapi dalam pekerjaan ini? Apakah sebelumnya Anda telah mengetahui akan mengalaminya jika bekerja sebagai PNS? Sejumlah pertanyaan lain perlu Anda ulangi lagi untuk kembali memastikan motivasi dan tujuan Anda berkecimpung dalam pekerjaan ini. Apabila sebelumnya Anda telah mengetahui segala macam resiko yang akan dihadapi, maka Anda tidak perlu menyesalinya. Lakukan dan kerjakan yang terbaik yang dapat Anda lakukan. Apabila Anda merasa terbatas (atau dibatasi) oleh karena sistem dan tekanan dari atasan, mungkin Anda dapat menyampaikan hal tersebut kepada bagian struktural. Sebaiknya Anda perlu membicarakan hal yang membuat Anda tidak nyaman (setelah menjalani 1 tahun). Bila Anda tidak membicarakannya dan hanya menyimpan dalam hati, maka hingga kapan pun Anda tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari ketidaknyamanan Anda. Selain itu, Anda akan terus-menerus bekerja dengan berat hati. Jika Anda mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, setidaknya Anda telah berusaha untuk memperbaiki hal tersebut (sistem dan tuntutan dari atas). Pikirkanlah kembali jalan atau langkah yang ingin Anda ambil selanjutnya. Tanyakan di dalam diri sendiri, "Apakah saya masih dapat bertoleransi terhadap ketidaknyamanan yang saya terima di tempat kerja?" "Hal positif apa saja yang dapat saya lakukan jika saya bekerja di tempat tersebut?" "Apakah saya harus meninggalkan siswa-siswa yang akan selalu membutuhkan bantuan dari saya?" "Bagaimana caraya agar saya tetap dapat mengajar di tempat ini, namun siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan mereka?" "Hal apa yang saya lakukan untuk merubah sistem mengajar di kelas namun tetap dalam koridor yang telah ditentukan oleh atasan?" Sebelum mengambil keputusan selanjutnya, sebaiknya Anda berpikir dan berdiskusi dengan orang lain yang lebih berpengalaman, memiliki pandangan obyektif, dan dapat meningkatkan pengetahuan Anda. Diperlukan pula koreksi diri agar Anda tidak menuntut perubahan lingkungan atau sistem yang telah ada sebelumnya, namun terlebih dahulu pribadi Anda dapat berubah untuk membawa dampak yang positif bagi lingkungan. Karena perubahan paling kecil dimulai dari dalam diri kita sendiri. |
| Ibu Bekerja, Fokus Karir atau Anak Posted: 29 Mar 2012 09:23 AM PDT Ilustrasi (msn) Dilema wanita karir ini terjadi ketika mereka memiliki anak. Konsenstrasi yang biasanya terfokus pada karir terpecah dengan kehadiran anak. Mereka harus membagi diri untuk urusan rumah tangga, karir dan anak. Menjadi 'wanita super' seperti ini pasti menimbulkan masalah dalam pribadi dan rumah tangganya. Jajak pendapat 'Mom Secrets' yang dilakukan oleh Today dan Parenting.com pada 13 hingga 20 Juni 2011 diketahui bahwa, muncul dilema antara benci dan cinta saat ibu bekerja. Di satu sisi, mereka mengeluhkan waktu yang terkuras di tempat kerja. Di sisi lain, si ibu juga kerap menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk melarikan diri dari rutinitas rumah tangga dan mengurus anak. Pekerjaan bisa dijadikan alasan untuk menghindar dari pertengkaran anak, mengganti popok, atau kerewelan balita mereka. Saat-saat seperti itu membuat sang ibu membayangkan suasana kerja sebagai dunia yang tenang. Jajak pendapat dua lembaga ini menemukan bahwa, ibu yang bekerja mengalami emosi yang rumit perihal rumah tangga. Dari 26.000 ibu yang menjadi responden jajak pendapat, diketahui 74 persen diantaranya mengatakan mereka bekerja di luar rumah. Berikut rincian hasil jajak pendapat yang diperoleh, (1) sebanyak 42 persen responden mengatakan mereka lebih senang menambah 50 persen waktu di tempat kerja dari pada menghabiskan waktu dengan anak-anaknya; (2) 20 persen ibu yang bekerja menilai ibu lain juga terlalu sibuk bekerja; (3) satu dari lima ibu pekerja mengatakan bahwa akan memilih karir yang fleksibel andaikata harus berhenti bekerja dari kantornya. Sedangkan satu dari 10 ibu pekerja mengakui ingin berkonsentrasi pada karir yang ditekuninya selama ini; (4) kurang lebih sepertiga dari ibu pekerja tersebut mengakui bahwa bekerja merupakan cara untuk melarikan diri dari aktivitas mengasuh anak. Jajak pendapat 'Mom Secrets' ini juga merekam beberapa ungkapan benci dan cinta dari ibu yang bekerja. Salah seorang ibu, anonim, menuliskan: "Saya sedih karena harus bekerja seharian penuh di kantor. Tetapi saat pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan anak, saya malah merasa stres, lelah dan bahkan kewalahan," ujarnya. Ibu pekerja lainnya mengakui bahwa memilih untuk menitipkan anaknya sebagai solusi terbaik karena ia benar-benar mencintai pekerjaannya. Di sisi lain, diam-diam berharap bisa mengurus anaknya. Sedangkan ibu lainnya mengaku dengan tulus namun ironis, "Saya merasa bersalah karena setiap hari harus pergi bekerja, jauh dari anak." Kecemasan tentang karir bagi seorang ibu lebih banyak didorong oleh pandangan masyarakat. Masyarakat memandang bahwa wanita, apalagi seorang ibu, sudah wajib untuk mengurus anak, keluarga dan rumah tangganya. "Banyak wanita yang senang bekerja sambil mengurus anak dan rumah. Sayangnya, mereka kerap memperlihatkan wajah sedih kepada semua orang dan kepada dunia," terang dalam laporan jajak pendapat dua lembaga Today dan Parenting.com. (msn/mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
