PsikologiZone.com |
- Kenakalan Remaja, Masa Merepotkan Bagi Orang Tua
- Lawan Virus Korupsi dengan Pendidikan Anti Korupsi
- Kenakalan Remaja Sudah Masuk Jaringan Kriminalitas
- Kurikulum Anti Korupsi Dimulai Pertengahan Tahun Ini
- Kenali Tanda Anak Mengalami Stres
- Calistung Bukan Kurikulum Pas Siswa PAUD
- Korupsi itu Memalukan, Menyontek itu Lumrah
- Penyandang Autisme Memproses Informasi Lebih Besar
- Kemensos Bangun Pusat Penanganan Trauma Bagi TKI
| Kenakalan Remaja, Masa Merepotkan Bagi Orang Tua Posted: 26 Mar 2012 01:12 AM PDT Ilustrasi (umm) “Banyak orang tua mengatakan usia yang paling menghebohkan, merepotkan, dan menjengkelkan bagi anak mereka adalah usia remaja. Alasan itu dengan mendasarkan munculnya sikap pemberontakan, sulit diatur, egois, dan sebagainya,” ungkap guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) SMP Negeri 1 Salatiga, Sri Warsinah SPd, (10/3). Anak yang biasanya suka membantu orang tua, betah di rumah, penurut, berubah menjadi pemalas, jarang di rumah, keras kepala, suka membantah dan lain-lain. Menurut Sri Warsinah, kenakalan remaja dapat diredam melalui salah satu cara, misalnya memberikan perhatian ekstra pada mereka. “Orang tua tidak perlu terlalu cemas sepanjang punya perhatian yang cukup kepada mereka yang menginjak masa remaja. Berikan perhatian dalam hal apapun,” kata Sri. Pengawasan bukan dilakukan dengan cara mengekang dan melarang anak tanpa alasan. Orang tua tidak perlu melarang anak selama apa yang mereka lakukan masih wajar. Maksudnya tidak membahayakan dan merugikan dirinya dan orang lain, norma masyarakat, hukum dan agama. “Tunjukkan akibat atau resikonya bila mereka melakukan sesuatu, dan itu salah satu cara untuk mengingatkan mereka,” lanjut beliau. Sri menambahkan, orang tua perlu mengawasi pergaulan anak, terutama bila berteman dengan usia yang lebih tua 2-3 tahun. Perbedaan usia bisa mempengaruhi bagaimana remaja menerapkan gaya hidup yang mungkin belum waktunya mereka jalani. Orang tua sebaiknya juga membuka mata akan perkembangan teknologi informasi seperti internet, televisi, telepon genggam dan sebagainya. (sm/mba) |
| Lawan Virus Korupsi dengan Pendidikan Anti Korupsi Posted: 25 Mar 2012 09:15 PM PDT Ilustrasi (wordpress) “Korupi di negeri ini sudah sangat masif, virus korupsi menyebar ke semua elemen masyarakat, hampir-hampir tidak ada tempat lagi bagi kita untuk tidak melihat praktek-praktek korupsi. Sehingga wabah virus korupsi yang begitu besar harus dilawan dengan virus pendidikan anti korupsi,” tutur beliau, Jumat (9/3). Pendidikan anti korupsi yang masuk dalam kurikulum karakter bangsa pada pendidikan tingkat dasar hingga menengah, dan integrasi nilai anti korupsi dalam kurikulum pendidikan tinggi sejalan dengan pencegahan korupsi oleh kedeputian KPK. Oleh karena itu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjalin kerjasama dengan KPK untuk menjalankan pendidikan anti korupsi pada tahun ajaran baru 2012-2013. Penandatanganan MoU telah dilakukan antara Mendikbud, Mohammad Nuh dengan Ketua KPK, Abraham Samad, di Gedung A, Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan (9/3). “Konsepnya sudah ada, tahun 2012 secara serentak akan kita mulai pendidikan antikorupsi,” kata Nuh. Nuh mengatakan bahwa kerjasama antara Kemendikbud dengan KPK diharapkan dapat menciptakan generasi baru yang tahan dengan godaan korupsi, juga untuk mempersiapkan sistem anti korupsi di Kemendikbud dan jajarannya, termasuk fungsi pendidikan di daerah-daerah. “Kita ingin dunia pendidikan dan kebudayaan menjadi motor untuk membangun proses pembudayaan yang tahan terhadap korupsi,” harap Mendikbud. (sm/mba) |
| Kenakalan Remaja Sudah Masuk Jaringan Kriminalitas Posted: 25 Mar 2012 02:21 AM PDT Ilustrasi (wordpress) Guru bimbingan konseling (BK) SMKN 3 Cimahi, Tri Windarwati menceritakan pengalamannya di sela-sela workshop Juvenille Delinquent yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani). Ia menceritakan temuannya terhadap ada sejumlah siswa yang terjerumus kenakalan remaja masuk dalam jaringan kriminal. “Kenakalan remaja sekarang ini sudah bukan kenakalan biasa. Misalnya geng motor. Menyebut nama tersebut, kita sudah bisa tahu apa saja bentuk kenakalan yang mereka lakukan. Bahkan hal-hal yang mereka perbuat sudah masuk perbuatan kriminal, bukan cuma kenakalan remaja,” ujar Tri, Kamis (22/3). Kenakalan remaja bukan hanya sekedar dilakukan oleh mereka, namun ternyata didukung oleh sebuah jaringan kriminal yang lebih berbahaya. “Berawal dari razia handphone (HP), kita temukan isi SMS terkait sebuah jaringan penjualan anak remaja. Itu memang sangat mengejutkan. Namun setelah kita duduk bareng dengan guru lainnya dan pihak kepolisian, akhirnya kasus tersebut bisa kita ungkap dan kita selesaikan,” terang dia. Bukan hanya itu, bahkan ada sekelompok anak siswa yang memiliki penyimpangan seksual direkrut oleh sopir angkot yang memanfaatkan diri mereka. Kenakalan remaja seperti ini sudah bukan lagi pihak sekolah yang harus bertindak, namun juga pihak kepolisian dan juga keluarga. Guru BK akan sangat kewalahan menangani masalah ini bila pihak keluarga sendiri acuh pada kondisi remaja. Melalui workshop tentang Juvenille Delinquent, diharapkan dapat menambah wawasan bagi setiap guru BK di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung dalam menangani kasus kenakalan atau kenakalan remaja menjurus kriminalitas. “Dalam workshop ini dikenalkan bagaimana cara menangani mereka. Diharapkan dengan adanya workshop ini bisa membantu para guru BK dalam menangani berbagai masalah, khususnya yang berkaitan dengan kenakalan remaja di sekolah mereka masing-masing,” ungkap Dra. Indrya A.R. Dharsono, M.A., Dekan Fakultas Psikologi Unjani. (gm/mba) |
| Kurikulum Anti Korupsi Dimulai Pertengahan Tahun Ini Posted: 24 Mar 2012 09:42 PM PDT Ilustrasi (ant) Haryono Umar, Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa wacana mengenai pendidikan anti korupsi telah ada sejak 2010. Tahun ini merupakan saat yang tepat setelah semua persiapan selesai. Pertama yang dilakukan adalah melakukan training of trainer kepada tenaga pendidik di setiap jenjang pendidikan. “Materi untuk guru PAUD sampai SMA akan selesai akhir bulan ini. Saya kira bisa diterapkan mulai tahun ajaran baru,” kata Haryono, di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Jumat (9/3). Haryono Umar, mantan Pimpinan KPK, telah resmi dilantik oleh Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada 9 Maret kemarin. Bergabungnya Haryono diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dalam pendidikan nasional dan juga mengedukasi jajaran Kemdikbud supaya tidak melakukan tindakan penyelewengan. Menurut Mendikbud, buruknya perilaku bangsa saat ini tidak lepas dari ketidakjujuran yang menggerogoti bangsa Indonesia hingga korupsi merajalela. “Ketidakjujuran ini yang melahirkan korupsi di mana-mana. Oleh karena itu, sekolah harus menjadi tempat pendidikan karakter untuk menyemaikan nilai-nilai kejujuran,” kata Nuh saat kunjungan ke Desa Naibonat, Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, NTT, Sabtu (17/3). Dosen Psikologi Sosial Unissula Semarang, Falasifatul Falah mengusulkan solusi yang sama menanggapi maraknya kasus korupsi yang telah berakar sejak generasi muda. “Pendidikan karakter yang bermuara pada pembentukan sikap anti korupsi tak pelak merupakan suatu keharusan mendesak. Pendidikan karakter tidak boleh melupakan aspek keberanian sebagai salah satu unsur penting yang membentuk kepribadian kuat,” jelas beliau. Pokok penting yang harus diperhatikan juga bagi pemerintah selanjutnya adalah bagaimana membuat pembelajaran anti korupsi tidak semakin menambah beban siswa dalam proses belajar. Pembelajaran juga perlu dibuat semenarik mungkin bagi siswa agar menciptakan suasana belajar mengajar yang nyaman. Hal ini diungkapkan oleh Anggota Komisi X DPR RI, Raihan Iskandar, Kamis (1/3) lalu. (dll/mba) |
| Kenali Tanda Anak Mengalami Stres Posted: 24 Mar 2012 03:17 AM PDT Ilustrasi (bbc) Stres pada anak balita hingga usia sekolah dan remaja diketahui banyak sebab. Orang tua perlu untuk peka dan mengenali gejala stres yang mungkin dialami oleh anak mereka. Mengetahui gejala stres pada anak sejak dini dapat membantu orang tua menemukan solusi yang tepat bagi mereka. Setiap kelompok usia anak memiliki caranya sendiri dalam menunjukkan rasa frustasi atau stres yang mereka alami. Sensifitas orang tua dirasa perlu untuk mengetahui tanda-tanda anak mengalami stres. Hal ini diungkapkan oleh psikolog dan direktur Personal Growth Dra Ratih Ibrahim, MM, Selasa (20/3) di Jakarta. “Semakin muda usia anak, ia belum mempunyai kapasitas untuk bercerita mengungkapkan apa yang dirasakannya. Bahkan, untuk balita misalnya, ia belum memahami apa yang dinamakan stres. Yang paling berperan membantu anak mengenali tanda stres dan mengatasinya adalah orangtua,” jelasnya. Ratih menambahkan, ada sejumlah gejala yang bisa dijadikan patokan bagi orang tua dalam mendeteksi gangguan stres pada anak. Tanda-tanda ini meliputi karakteristik fisik, emosi dan psiko-sosial. Misalnya, anak terlihat lebih rewel, uring-uringan, kehilangan minat, pemarah, mudah tersinggung, menunjukkan sikap gelisah, kepercayaan diri luntur, bahkan menarik diri dari pergaulan. Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait dalam tempat yang sama menambahkan, anak stres bisa diketahui juga melalui menurunnya nilai akademis, mengigau, nafsu makan menurun, mimpi buruk dan menggertakan gigi. “Stres pada anak tidak datang dengan sendirinya, orangtua juga punya kontribusi yang membuat anak menjadi stres,” ungkap Arist. Gaya pengasuhan orang tua menjadi sangat penting bagi orang tua dalam menentukan sikap pada anak. Jangan sampai orang tua dalam menerapkan pola asuh, misalnya cenderung otoriter, mengabaikan, dan stimulasi yang salah. (kmp/mba) |
| Calistung Bukan Kurikulum Pas Siswa PAUD Posted: 24 Mar 2012 01:30 AM PDT Ilustrasi (vibizdaily) “Kurikulum yang ada dibuat PAUD itu seharusnya didesain lebih pada sosialisasi pendidikan kepada anak, seperti berkenalan kepada temannya, bagaimana berinteraksi dan sosialisasi, bukan calistung. Berhitung itu seharusnya dimulai dari kelas I SD,” kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Selasa (20/3) dalam acara “Mengenali Gejala Stres pada Anak”. Pendidikan Calistung terlalu dini membuat anak stres hingga orang tua dan guru ikut stres menjalani program pendidikan anak yang sebenarnya melebihi standar. “Anak kita yang PAUD tidak bisa baca tulis, orangtuanya stres karena tidak bisa memasukkannya ke SD. Begitu seterusnya karena tidak sesuai grade. Ini dikarenakan sistem kurikulumnya memaksa anak harus bisa baca tulis,” ungkapnya. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal, Dan Informal, Lydia Freyani Hawadi mengungkapkan hal yang sama akhir pekan lalu di Gedung Kemdikbud, Jakarta. "Jika masuk sekolah dasar itu diuji dengan membaca, menulis, dan berhitung, itu salah kaprah! Sehingga dalam hal ini, tolong dari pihak SD jangan seleksi masuk dalam hal itu." kata Lydia Freyani Hawadi. Ia menghimbau agar penyelenggara pendidikan mematuhi aturan yang sudah ditetapkan. PAUD adalah prapendidikan dasar yang seharusnya memiliki peran dasar dalam jenjang pendidikan, bukan melangkahi. Menurut psikolog Ratih Ibrahim, PAUD bukan satu-satunya cara yang harus ditempuh oleh anak. Keluarga memiliki tanggung jawab untuk sadar bahwa pendidikan bisa diciptakan oleh orang tua. “Sebetulnya, paling penting, itu disediakan oleh orangtua karena mereka kenal dengan baik psikologis perkembangan anaknya,” ujar Ratih yang juga Direktur Personal Growth, dalam acara yang sama dihadiri oleh ketua Komnas PA. Orang tua dapat menemukan sendiri potensi anak yang sebenarnya tidak bisa diukur melalui nilai dalam program pendidikan formal. (kmp/mba) |
| Korupsi itu Memalukan, Menyontek itu Lumrah Posted: 23 Mar 2012 08:36 PM PDT Ilustrasi (pdk) Menurut Falasifatul Falah, dosen Psikologi Sosial Unissula Semarang mengatakan, ada ketidakkonsistenan nilai pribadi pada generasi muda dalam menanggapi perilaku ketidakjujuran dan pelanggaran amanah. “Saya melontarkan pertanyaan secara anonim dan tertulis pada sekitar 60 mahasiswa yang menghadiri sebuah forum akademik, untuk mengetahui bagaimana sikap mereka terhadap korupsi dan perilaku lain,” kata Falasifatul Falah, Sabtu (24/3). Hasilnya, mayoritas mahasiswa menilai bahwa korupsi merupakan perilaku yang memalukan, namun tindakan menyuap polisi lalu lintas dan saling menyontek di saat ujian adalah perbuatan lumrah. “Walaupun secara metodologis belum bisa digeneralisasi. Sikap mahasiswa itu merupakan potret dari ketidakkonsistenan nilai pribadi mereka. Kontradiktif karena perilaku korupsi, menyuap polisi lalu lintas, dan menyontek sama-sama merupakan manifestasi dari ketidakjujuran dan pelanggaran amanah,” jelasnya. Falasifatul Falah menduga banyak aktivis mahasiswa yang suka berdemo tidak sepenuhnya mengharamkan perilaku menyontek saat ujian dalam kehidupan akademik. Tidak ada yang bisa menjamin mereka saat ada kesempatan melakukan korupsi. Mengingat banyak contoh tokoh muda terkenal berani dengan idealisme, namun loyo di dalam birokrasi. Sebuah penelitian di negara berkembang menghasilkan bahwa individu yang menganggap dirinya sebagai religius dan menilai korupsi adalah dosa, tidak bisa mengelak dari perilaku dosa tersebut. Individu ini melakukan konformitas, mengalah pada pengaruh sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. “Kebiasaan berjamaah harus dibuang jauh-jauh bila itu menyangkut hal negatif seperti korupsi atau menyontek jawaban ujian,” tutur Falasifatul Falah. Pendidikan karakter merupakan salah satu solusi yang bisa meredam budaya korupsi sejak masa anak-anak hingga dewasa kelak. Individu yang mampu membongkar budaya korupsi adalah memulai dari diri sendiri. (sm/mba) |
| Penyandang Autisme Memproses Informasi Lebih Besar Posted: 23 Mar 2012 02:11 AM PDT Ilustrasi (nurturedecatur) Autisme adalah perkembangan abormal yang mengakibatkan terganggunya proses komunikasi dan interaksi sosial, namun autisme memiliki kelebihan dalam memusatkan perhatian pada tugas-tugas tertentu. Autisme memiliki sensifitas pada rasangan, yang biasanya terabaikan oleh orang normal, misalnya kedipan cahaya atau suara berdenting. Profesor Nilli Lavie, dari Institute of Cognitive Neuroscience di UCL yang melakukan penelitian ini mengatakan, kombinasi antara kelebihan dan kekurangan yang dimiliki orang autistik disebabkan oleh tingginya kapasitas pengolahan informasi dibandingkan orang normal. “Kapasitas otak orang dewasa normal memiliki perbedaan dengan orang autistik,” katanya. Orang autistik memiliki kelebihan dalam menangkap obyek, tetapi kelebihan ini juga membuat mereka kesulitan mengabaikan obyek yang sebenarnya tidak relevan. “Penelitian kami melihat autisme tidak dalam defisit atensi melainkan kelebihan dalam pengolah informasi,” ungkap Levie. Profesor Lavie bersama Dr Anna Remington, Dr John Swettenham dari UCL Developmental Science department, menguji penelitian mereka pada 16 subyek orang dewasa dengan gangguan spektrum autisme dan membandingkan hasilnya dengan 16 orang dewasa normal dalam kapasitas menangkap informasi. Profesor Lavie percaya bahwa temuan ini dapat membantu orang autistik sukses menjalani karir di bidang teknologi informasi. Karakter autisme dipercaya sesuai dengan bidang yang membutuhkan konsentrasi intens dan kemampuan memproses informasi lebih banyak melalui layar komputer. “Temuan ini juga mengharapkan pihak keluarga turut serta membantu sanak keluarganya yang mengalami autisme. Terutama dalam memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya,” tambah Dr Remington. (sd/mba) |
| Kemensos Bangun Pusat Penanganan Trauma Bagi TKI Posted: 22 Mar 2012 08:26 PM PDT Ilustrasi (sasak) Pemprov Kepri telah menghibahkan 2,5 hektar lahan kepada Kementerian Sosial. Penyerahan sertifikat lahan telah diserahkan langsung oleh Muhammad Sani, Gubernur Kepri kepada Salim Segaf Al Jufri, Menteri Sosial (Mensos), Kamis (22/3). RPTC sendiri akan dibangun di Senggaran tanjung Pinang. Pembangunan dan peresmian akan selesai dalam waktu 3 bulan, dimulai pada bulan April hingga Juli 2012. Tempat tersebut menurut rencana akan dijadikan tempat penampungan TKI yang terkena deportasi dan dipulangkan ke daerah asal. Sebagian dari mereka sangat perlu pendampingan psikologi. “RPTC akan digunakan untuk pekerja migran yang bermasalah, untuk mengantisipasi kalau mereka pulang tetapi masih trauma sehingga tidak bisa langsung pulang ke kampung halamannya,” kata Salim Segaf Al Jufri, Mensos di Batam kemarin (22/3). Menurut Direktur Perlindungan Sosial Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran Kementerian Sosial, Akifah Elansary, RPTC sebelumnya sudah pernah dibangun sejak 2011 di Tanjungpinang, namun masih belum memadai sebagai tempat pemulihan. Sebelum TKI siap dipulangkan ke daerah asal, kondisi mental mereka perlu mendapatkan pemulihan psikologi melalui pelayanan yang ada di RTPC. Mereka akan mendapatkan berbagai layanan seperti konsultasi atau terapi psikologi dan juga perawatan medis. Selain itu para TKI akan mendapatkan bantuan tunai sebesar Rp 250 ribu untuk bekal selama perjalanan pulang ke daerah masing-masing. TKI yang sudah dipulangkan dan masuk dalam kategori miskin diharapkan mau mengikuti program kelompok usaha bersama (KUBE) dari Kemensos. “Dengan RPTC, para TKI bermasalah diharapkan bisa kembali ke kampung halaman dengan kondisi baik sehingga para TKI itu mampu mandiri dan mengembangkan ekonomi produktif,” jelas Mensos. Berdasarkan Data Dinsos Pemprov Kepri tercatat pada 2009 dan 2010, rata-rata deportasi melalui Tanjungpinang dan Batam sebanyak 150 ribu orang. Sedangkan data Kemensos, jumlah TKI yang telah dideportasi melalui Kepri pada 2011 sebanyak 18.736 orang. (rpk/ant/mba) |
| You are subscribed to email updates from Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |