artikel asyik online

health beauty care

Rabu, 22 Februari 2012

PsikologiZone.com

PsikologiZone.com


Memilih untuk Bercerai

Posted: 22 Feb 2012 12:13 AM PST

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Konsultasi oleh Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi, Psikolog Berpengalaman sebagai konselor dan tester di beberapa institusi pendidikan dan rumah sakit. Tergabung dalam lembaga Psychological Assesement.Centre "LOVE", assessment centre di bidang klinis, pendidikan, serta industri dan organisasi.

Tentang Dani Tri AstutiEmail Dani Tri Astuti

Pertanyaan:

Setelah menikah 2 Minggu, kami harus berjauhan. Setahun kemudian baru kami bisa hidup bersama. Suami mengungkapkan kalau dia ada adik angkat selama kami berjauhan dan suami sempat kenalkan lewat telpon.

Beberapa hari kemudian suami mengaku menjalin hubungan dengan adik angkatnya itu selama kami berjauhan. Dalam keadaan hamil 5 bulan, emosi saya terganggu, makian dan tindakan saya sungguh di luar kawalan. Suami sudah berkali-kali minta maaf dan berharap saya melupakan. Tapi hingga 7 tahun usia pernikahan kami, saya masih merasa trauma dan kadang kayak orang gila, marah-marah mendadak.

saya ingin menuntut cerai saja, untuk membebaskan hati saya yang luka dan pada waktu yang sama biar suami tidak tertekan dengan sikap saya yang labil, saya pun kasihan dengan suami. Apa yang harus saya lakukan? hampir tiap hari saya menangis, rasa menderita. (R, 31, Pengajar)

Jawaban:

Dear, R..

Masalah yang anda hadapi cukup kompleks, dan wajar membuat anda mengalami kondisi emosi yang tidak stabil. Menurut saya, sebaiknya anda melakukan konseling secara langsung dengan seorang psikolog dan menjalankan beberapa treatment, dengan harapan anda dapat meredakan dan menstabilkan kondisi psikis anda,karena kondisi anda saat ini, sudah mempengaruhi kehidupan anda dan mengganggu orang disekeliling anda. Dengan kata lain hubungan interpersonal anda menjadi terganggu.

Selain itu ada beberapa hal yang perlu anda renungi saat ini. Anda harus ingat, kehidupan itu, ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bukannya masa lalu tidak penting, hanya karna ada masa lalu maka masa kini terjadi. Begitu juga dengan masa depan anda, dimana masa depan anda ditentukan oleh perbuatan anda saat ini.

Apakah cerai merupakan jalan terbaik?

Cerai bukan jalan yang terbaik untuk melindungi orang yang anda sayang. Anda menginginkan bercerai karena, anda berpikir agar suami anda tidak tertekan dengan sikap anda yang labil, serta dengan harapan anda tidak merasakan kesedihan yang mendalam seperti kondisi saat ini. Apakah anda tidak ingat kondisi anak anda saat ini. Bagaimana dampak-dampak kondisi keluarga yang tidak kondusif, dalam perkembangan psikologis anak.

Apabila,usia anak memasuki usia prasekolah atau usia sekolah. Mereka akan sangat menyadari bahwa perubahan besar telah terjadi. Salah satu orangtua tidak akan lagi tinggal di rumah atau hadir di tempat atau pada waktu yang diharapkan. Anak usia ini memerhatikan kehilangan itu. Misalnya dengan pertanyaan: "Kenapa ayah pergi, saya kangen, ingin ayah balik." Ketika satu orangtua pergi, teror yang lebih besar mengintai di balik pikiran mereka. Misalnya: "Jika ayah sudah pergi, mungkin ibu juga akan pergi."

Isu perceraian utama adalah perubahan dan kehilangan. Anak tidak suka kedua hal ini karena menakutkan. Kepercayaan diri mereka, rasa percaya bahwa apa yang mereka inginkan selalu akan ada, telah terganggu. Sebuah hantaman telah membuka dasar rasa aman mereka. Reaksi utama terhadap hilangnya kepercayaan diri mereka adalah dengan menarik diri.

Apakah anda siap dengan semua resiko yang akan anda munculkan? Jika anda tidak memperbaiki diri anda, dan memilih untuk bercerai, maka jalan yang anda lakukan bukan lah menyelesaikan masalah anda, justru anda telah menambah masalah baru.

Saran saya, benahi diri anda terlebih dahulu, 1) memaafkan suami anda, 2) control diri anda, dengan selalu berpikiran positif, membuat emosi anda akan menjadi lebih nyaman, dan perilaku anda pun tidak menjadi agresif, 3) kalau pikiran negative anda muncul kembali, katakan "STOP" kepada pikiran anda, 4) lakukan regulasi emosi, salah satunya adalah relaksasi atau meditasi, 5) komunikasi diantara anggota keluarga diperbaiki, menjadi lebih aktif dan efektif, mendengar dengan hati, 6) Respek, 7) dan jika anda benar-benar ingin bercerai, tolong pikir dengan bijak dan dengan kepala dingin. Bicarakan dengan suami, tidak salah memulai lembaran baru dengan komitmen baru dengan suami.

Perlu anda ingat Anak-anak sangat membutuhkan cinta dari kedua orangtua dan tetap ingin agar keduanya menjadi bagian dalam hidup mereka. Bagi anak, perkembangan rasa percaya diri dan kesejahteraan diri mereka juga bergantung pada ekspresi kasih sayang kedua orangtuanya.

"Ketika kamu merasa hatimu sangat terluka, ketahuilah bahwa saat itu kamu tengah belajar tentang MEMAAFKAN"

Tiga Aspek Menumbuhkan Kepercayaan Anak pada Orang tua

Posted: 21 Feb 2012 05:57 AM PST

Tiga Aspek Menumbuhkan Kepercayaan Anak pada Orang tua

Ilustrasi (donysetiawan)

Yogyakarta, Psikologi Zone – Sebuah hasil penelitian baru dengan pendekatan indigenous psychology (psikologi konteks kultural) pada masyarakat etnis jawa menunjukkan bahwa, sikap “ngemong” dari orang tua yang terdiri dari asih, asah, dan asuh secara kuat mempengaruhi pembentukan kepercayaan anak.

Kata ngemong digunakan untuk menggambarkan hubungan orang tua dan anak, terutama dalam konteks budaya Jawa. Jawa adalah salah satu kelompok etnis di Indonesia. Ngemong terdiri dari tiga komponen pengasuhan: memberikan kasih sayang (asih), merangsang potensi anak (Asah), dan memenuhi kebutuhan anak (asuh).

Penelitian ini akan dipublikasikan oleh Internasional Journal of Research Studies in Psychology (IJRSP) pada Juni 2012, yang ditulis oleh M.A. Hakim, H.B. Thontowi, Kwartarini Wahyu Y. dari Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Uichol Kim dari College of Business Administration, Inha University, Incheon, Korea.

“Penelitian itu bertujuan untuk memahami faktor-faktor apa saja yang membentuk kepercayaan anak Jawa kepada orangtuanya menurut kacamata si anak sendiri.” Kata M.A. Hakim ketika dihubungi Psikologi Zone (21/2).

Lebih jauh, penelitian ini mendemonstrasikan adanya perbedaan pola kepercayaan anak kepada ayah dan ibu dalam konteks Jawa.

“Kepercayaan anak kepada ibu cenderung didasari oleh nilai asih dan asuh terwujud dalam bentuk kasih sayang dan pengasuhan yang diberikan oleh ibu, sementara alasan anak percaya kepada ayah lebih didasarkan pada perannya sebagai pendidik utama dalam keluarga yang merepresentasikan nilai asah.” Ungkap Hakim.

Penelitian ini menguji alasan mengapa orang Jawa percaya pada ibu dan ayah mereka. Subjek penelitian sebanyak 356 mahasiswa etnis Jawa di Universitas Gadjah Mada. Laki-laki sebanyak 97 orang dan wanita sebanyak 259 orang.

Banyak psikolog percaya bahwa karakteristik kepercayaan pada anak-anak dalam konteks keluarga menjadi dasar hubungan sosial, terutama dalam interkasi sosial. Diharapkan orang tua juga harus belajar memahami anak-anak mereka untuk memfasilitasi mereka tumbuh, dan akhirnya menimbulkan prestasi.

Pendidikan orang tua dalam membentuk kepercayaan merupakan sesuatu yang mungkin perlu untuk dikembangkan dan dibangun untuk tumbuh kembang anak. Dalam skala yang lebih luas kepercayaan dapat mengurangi benturan dan gesekan sosial, yang (diduga) berasal dari kurangnya kepercayaan antar kelompok sosial.

Sebuah fondasi kepercayaan yang kuat, pada akhirnya membentuk masyarakat yang harmonis di bawah bingkai Bhinneka Tunggal Ika, dasar nasionalisme Indonesia.

Kurang Kasih Sayang dan Kehangatan dari Ibu

Posted: 21 Feb 2012 01:16 AM PST

Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi

Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi

Konsultasi oleh Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi, Psikolog berpengalaman dalam psychological testing di berbagai institusi pendidikan dan perusahaan Indonesia. Tergabung dalam lembaga Psychological Assesement.Centre "LOVE", assessment centre di bidang klinis, pendidikan, serta industri dan organisasi.

Tentang Israele EuaggelionEmail Israele Euaggelion

Pertanyaan:

Ini masalah dengan ibu saya.
saya merasa iri melihat teman2 yang dekat sama ibunya. Dari kecil saya dan saudara kandung saya merasa kami kurang mendapat kasih sayang dan kehangatan dari seorang ibu. Ibu kami selalu mengatakan dan menyuruh sesuatu dengan marah, jarang kami mendengar ia berkata lembut dengan kami.

Kami merasa tertekan dengan keadaan ini. Saya ingin sekali ibu saya selembut ibu yang lain dan kami menjadi dekat dengan ibu. Apa yang harus saya lakukan dan bagaimana sikap yang harus saya lakukan? Bisa dibilang keluarga kami kurang harmonis karena kurang komunikasi dan tidak terbuka. (D.F, 20, Mahasiswa)

Jawaban:

Dear D.F,

Yang perlu Anda lakukan pertama kali adalah menerima kelebihan dan kekurangan diri dari orang tua Anda, khususnya Ibu. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh seorang anak manusia selain menerima keadaan keluarganya sejak lahir karena kita tidak bisa memilih siapa yang menjadi orang tua kita dan di keluarga mana kita ingin dilahirkan. Oleh karena itu yang dapat Anda lakukan adalah memaafkan dan menerima keberadaan Ibu Anda.

Bersyukurlah karena Anda memiliki seorang Ibu yang merawat dan membesarkan Anda dengan cara yang kurang baik menurut Anda (seringkali marah dan jarang menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya). Lihatlah ke bawah, kepada anak-anak yang terbuang atau tertolak dari orang tua, sehingga tidak pernah merasakan keberadaan orang tua kandung di dalam hidup mereka. Dibandignkan dengan mereka, hidup Anda jauh lebih beruntung :)

Kita hanya manusia biasa yang tidak dapat merubah orang lain seperti yang kita inginkan. Apalagi, beliau adalah orang tua kita. Tidak semua orang tua mau menerima saran atau pendapat dari anak-anaknya agar mereka mau mengubah perilaku mereka.

Hanya Tuhan yang mampu mengubah hati dan perilaku seorang manusia. Oleh karena itu, yang dapat Anda lakukan hanya menerima keadaan orang tua dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Dari sekian banyak kelemahan ibu, pasti terdapat banyak kelebihan dan pengorbanan yang dilakukannya untuk anak-anaknya. Doakanlah beliau agar ia menyadari kekurangan yang dimilikinya dan mau mengubahnya.

Di balik itu semua, mungkin saja Tuhan memiliki rencana lain untuk Anda. Ia memberikan ujian hidup kepada Anda agar Anda dapat belajar menerima kekurangan orang lain, dimulai dari orang terdekat, yaitu Ibu. Hal itu dapat membuat Anda semakin dewasa dan belajar memahami orang lain.

Walaupun orang lain berperilaku kurang baik terhadap hidup Anda, namun Anda tetap dapat bertindak baik dengan orang tersebut. Anda tidak perlu membalas (atau marah) terhadap perilaku Ibu. Sebaliknya, sebagai anak yang baik, hormat, dan patuh kepada orang yang lebih tua, Anda dapat memperlakukan Ibu selayaknya.

Apakah selama ini Anda tahu apa yang melatarbelakangi perilaku ibu? Jika Anda telah mengetahuinya (misalnya masa lalu yang kurang baik sehingga Ibu bersikap demikian), maka Anda dapat lebih memahami kondisi Ibu yang mungkin saja memiliki trauma.

Kemudian hal tersebut berdampak terhadap cara ibu mendidik dan merawat anak-anaknya. Namun, jika Anda tidak mengetahui latar belakang sikap Ibu, maka Anda perlu memakluminya bahwa ada hal-hal yang tersembunyi, yang tidak diketahui oleh anak-anak hingga mereka dewasa. Mungkin saja Ibu malu atau takut mengatakannya.

Terlepas dari masa lalu Ibu, yang harus kita jalani adalah saat ini dan merancang masa depan yang lebih baik untuk kehangatan keluarga. Tetaplah bersikap baik terhadap Ibu sebagai bentuk sayang dan hormat Anda kepada beliau. Dengan demikian, orang tua pun dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari anak-anaknya.

Untuk melakukan kebaikan,
tidak perlu menunggu orang lain untuk melakukannya telebih dahulu.
Never tire of doing what is good

Trauma Karna Kekerasan Ayah Pada Ibu

Posted: 20 Feb 2012 03:17 AM PST

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Konsultasi oleh Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum Jombang, direktur dan konsultan pendidikan anak, rekan ahli psikologi di beberapa lembaga, dan pernah menjadi pembicara di berbagai acara seminar, pelatihan dan talk show.

Tentang Uswatun HasanahEmail Uswatun Hasanah

Pertanyaan:

Kita tidak bisa menolak takdir. Termasuk kalau kita ditakdirkan untuk memiliki keluarga broken home. Orangtua saya tidak bercerai. Tapi saya ingin mereka bercerai dan benar-benar berpisah. Karena saya tidak melihat mereka benar-benar bahagia. Mereka sering bertengkar. Bahkan hal sepele pun bisa menjadi musibah besar. Ditambah mereka bukan orang berpendidikan. Jadi mungkin mereka cukup sulit buat memahami dampak psikologis yang saya dapat. Ayah saya juga mantan seorang pemabuk berat, yang sudah insyaf, ceritanya. Tapi dia tidak benar-benar menjadi orang yang layak jadi panutan. Sampai sekarang.

Saya ingin mereka benar-benar berpisah, karena jika sedang bertengkar hebat, ayah saya bisa menyakiti ibu saya secara lahir dan batin. Saya tidak ingin melihat ibu saya teraniaya. Saya tidak mudah memaafkannya. Saya sayang ibu.

Sejak kecil saya telah melihat terlalu banyak tindakan kekerasan yang dilakukan ayah saya. Sepertinya saya trauma. Mereka sempat bercerai beberapa hari waktu saya masih balita. Tapi ayah saya kembali menjemput ibu saya. Dan beberapa tahun lalu ibu saya pernah mengatakan bahwa beliau sebenarnya ingin bercerai, tapi nanti siapa yang akan mencari nafkah, begitu katanya. Walaupun ayah saya juga sama-sama orang miskin seperit ibu.

Yang mau saya konsultasikan pertama adalah saya sering teringat cekikan gila yang pernah dilakukan ayah saya kepada ibu saat saya masih TK, saat ayah juga masih pemabuk. Sampai sekarang bayangan itu masih tergambar jelas. Dan seringkali melintas begitu saja di benak tanpa saya mau. Kapan pun, di mana pun. Itu cukup mengganggu, saat sedang belajar di sekolah misalnya. Saya jadi kurang konsentrasi terhadap pelajaran.

Bahkan dulu waktu saya masih kecil, saya bisa sampai menangis akibat teringat kejadian itu. Bayangan bagaimana dia mencekik ibu dengan penuh kekuatan, saya menyaksikannya! Bayangan mata ibu saya yang melotot dengan lidah terjulur. Saya menulis ini juga dengan menangis. Bayangan itu sungguh menakutkan. Saya takut. Dan khawatir itu akan terjadi lagi. Dan masih banyak tindak kekerasan lainnya yang melekat di memori saya.

Saya takut ibu saya dipukul. Saya ingin beliau selalu bahagia dan baik-baik saja. Saya pernah menanyakan hal ini pada seorang motivator. Beliau bilang saya harus memaafkan masa lalu saya itu. Tapi bagaimana caranya saya bisa menghilangkan dan memaafkan ingatan tentang kejadian sadis yang terjadi saat saya masih begitu kecil. Dan sampai saat ini ingatan itu tetap kuat di pikiran saya. Ditambah dengan ada banyak hal lainnya yang sering membuat saya merasa waswas. Kebanyakan hal-hal itu adalah tentang orangtua saya.

Yang kedua, nanti saya ingin mendapat jodoh seorang Mu’min yang benar-benar sholih, jauh dari prilkau buruk ayah saya. Waktu SMP saya pernah membaca sebuah buku remaja Islami. Di situ dikatakan bahwa perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya. Tapi sang penulis juga menjelaskan, terutama untuk para laki-laki, untuk menikahi gadis baik-baik dari keluarga baik-baik. Jangan dari keluarga yang buruk. Karena sesholih apa pun gadis itu, dia pasti tetap menyerap hal-hal negatif dari keluarganya. Seperti bunga yang tumbuh di atas kotoran sapi. Sebaik dan secantik apa pun bunga itu tumbuh, ia pasti tetap menyerap saripati kotoran itu juga. Dan hal ini juga dijelaskan oleh Rasulullah Saw.

Saya sedang berusaha untuk menjadi muslimah yang sesungguhnya. Saya ingin mendapat jodoh yang terbaik. Tapi apakah saya akan mendapakannya? Akan adakah Mu’min sholih yang mau menikahi saya? Walau pun saya telah menjadi Mu’minah yang sesungguhnya misalnya? Saya mengkhawatirkan ini juga. Ditambah para tetangga juga tahu jelas bahwa ayah saya sangat sangat jarang ke mesjid. Dia suka sholat di rumah, di kamar. Belum lagi perilaku-perilaku dia yang lain.

Saya tidak ingin bernasib sama seperti ibu saya yang menikah dengan laki-laki seperti ayah. Mohon beri saya nasehat, motivasi, atau apa pun itu, untuk menghadapi dan menghilangkan semua memori sadis dan menyedihkan yang saya peroleh mungkin sejak saya dalam kandungan. Juga soal jodoh itu.
Terima Kasih banyak. (YT, 17, Pelajar)

Jawaban:

Saudari YT, apa yang anda alami saat ini merupakan ujian tanda kecintaan Tuhan pada kita agar kita selalu mengingatNya.

Apa yang anda alami adalah akibat adanya trauma di masa lalu. Ayah anda mungkin bukan figure yang baik bagi anak-anaknya. Kejadian yang sangat menyakitkan sulit dilupakan sering menjadi trauma yang terus menerus membayangi hidup anda. Hal yang terbaik adalah menyadari bahwa "Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Tuhan semata". Kemudian memberikan pemaafan terhadap kejadian yang telah terjadi, bukan hal mudah, cobalah.

Inya Allah ketenangan akan menyertai anda. Jadikanlah itu peristiwa itu sebagai pengalaman dan pelajaran berharga untuk kehidupan anda ke depan ambilah hikmahnya agar tidak ada dendam dan amarah bahwa Tuhan memberikan cobaan kepada kita karena kita dianggap mampu untuk menghadapinya. Anda adalah orang yang dipilih Tuhan untuk menghadapi persoalan ini, melupakan adalah hal yang mustahil jika peristiwa itu telah menjadi trauma, tetapi memberikan hadiah pemaafan terhadap orang yang telah melakukan kesalahan adalah hal yang sangat baik bagi perkembangan kesehatan mental kita.

Saya sangat bangga dengan anda karena anda kuat dan tetap memiliki perilaku yang baik seperti yang telah kita ketahui pada saat usia pra remaja seorang membutuhkan model untuk menjadi contoh bagi dirinya dalam berperilaku. Masa strom and stress dimana usia remaja awal ini masih sangat labil, mudah sekali bergejolak emosinya karena adanya perubahan hormonal.

Perilaku resiko pada usia ini tergantung pada kualitas relasi orang tua dengan remaja itu sendiri. Ketika kualitas relasi dengan orang tua menurun atau buruk maka perilaku berisiko cenderung timbul, berdoalah agar ayah anda dibukakan hatinya dan tetap berfikir positif yakin bahwa suatu hari anda akan memiliki kehidupan yang lebih baik dan mendapatkan suami yang baik dan mencintai anda.
Percayalah bahwa orang yang baik akan mendapatkan suami yang baik pula. Tuhan senantiasa memberikan kesempatan kepada manusia untuk berusaha dan merubah jalan hidupnya. Jangan berkecil hati banyak sekali contoh tokoh-tokoh yang berhasil dalam hidupnya tetapi berasal dari keluarga yang tidak sempurna.

Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagi Tuhan, Jika Tuhan telah berkehendak maka tidak ada satupun yang dapat menghalanginya. Pupuklah keyakinan positif bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk hidup anda. Allah selalu beserta orang-orang yang sabar ikhlas. Keyakinan menyumbang hamper 75% dari keberhasilan yang akan kita capai. Terimakasih semoga bermanfaat.

Masuk Militer Membuat Anggotanya Sulit Bergaul di Masyarakat

Posted: 19 Feb 2012 04:10 AM PST

Masuk Militer Dapat Membuat Anggotanya Sulit Bersosialisasi

Ilustrasi (SD)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Bukan rahasia lagi bahwa trauma karena perang dapat membuat veteran memiliki luka emosional yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk membaur dengan kehidupan sipil. Bahkan tanpa masuk dalam medan perang, kepribadian seorang veteran dapat berpotensi sulit bergaul dengan teman, keluarga dan rekan kerja. Hal ini merupakan penelitian baru oleh JJ Jackson, F. Thoemmes, K. Jonkmann,. Ludtke, dan U. Trautwein dalam Jurnal Psychological Science.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kepribadian memainkan peran penting dalam pelatihan militer, terutama pandangan individu terhadap kehidupan,” kata Joshua J. Jackson, PhD, asisten profesor psikologi di Washington University St. Louis, dikutip dari Science Daily (17/2).

Diterbitkan dalam jurnal Psychological Science, studi ini menemukan bahwa pria yang telah menjalani dinas militer, cenderung memiliki skor lebih rendah dari pada rekan sipil dalam pengukuran tingkat keramahan. Keramahan merupakan dimensi kepribadian yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjadi orang yang menyenangkan dan akomodatif dalam situasi sosial.

“Militer merekrut dengan sedikit sikap kurang hangat dan kurang ramah. Apalagi pengalaman militer ini nampaknya semakin diperkuat. Laki-laki militer memiliki skor lebih rendah pada keramahan, bila dibandingkan dengan individu yang tidak masuk militer,” kata Jackson.

Penelitian ini juga mengkonfirmasikan penelitian lain yang mengatakan bahwa laki-laki yang memasuki militer akan lebih agresif, lebih tertarik pada kompetisi dan kurang peduli tentang perasaan orang lain. Laki-laki yang masuk dalam militer juga dapat mengurangi kecenderungan kecemasan dan kawatir mencari pengalaman baru.

Jackson menunjukkan bahwa sikap kurang menyenangkan yang muncul tidak selalu merupakan sifat negatif manusia. Walaupun mungkin membuatnya lebih menantang dalam menjalin dan mempertahankan hubungan positif dengan lingkungan sosial.

Penelitian ini memberikan bukti bahwa pengalaman dalam pelatihan dasar dan layanan militer dapat membentuk cara orang memandang dunia dan berosialisasi.

Penelitian Jackson didasarkan pada studi selama enam tahun tentang cairi kepribadian dari sekelompok orang dewasa yang memilih untuk memenuhi kebutuhan pelayanan publik, baik melalui dinas militer atau sipil. (mba)

Lagi, CICP Fakultas Psikologi UGM Menembus Jurnal Internasional

Posted: 17 Feb 2012 11:50 PM PST

Lagi, CICP Fakultas Psikologi UGM Menembus Jurnal Internasional

Komite CICP UGM

Yogyakarta, Psikologi Zone – Sebuah kebanggaan bagi para civitas akademik bila karya tulisnya berhasil dipublikasikan kepada masyarakat, bukan hanya masyarakat lokal namun skala internasional. Masuk dalam jurnal internasional menjadi pemicu gairah tersendiri bagi Dra. Kwartarini Wahyu Y., M.Med.Sc., Ph.D, Dosen di fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Begitu salah satu published, saya senang sekali, kemudian menyusul yang kedua, ketiga and Insya Allah akan terus berlanjut. Sepertinya ada reaksi addicted ya.” Kata Dra. Kwartarini Wahyu Y., M.Med.Sc., Ph.D yang akrab dipanggil Ibu Bo sambil tersenyum, saat dihubungi Psikologi Zone (17/2/12).

Setelah sukses mempublikasikan naskah Adelia Khrisna Putri di Internasional Journal of Research Studies in Psychology (IJRSP), Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM kembali tergugah memasukkan naskah-naskah ilmiah masuk dalam jurnal Internasional.

“Saya ingin melepaskan arogansi inferiority yang membuat kita tidak mau mempublikasikan dan takut dikira jelek.” Ungkap Ibu Bo.

Kerja keras merupakan syarat wajib dan tidak bisa dilepaskan begitu saja untuk berhasil mempublikasikan dalam jurnal internasional.

“Saya submit semua, memang tidak langsung diterima tanpa revisi, ada sekitar dua atau tiga kali revisi. Kalau bahasa Inggris kita jelek itu normal karena bukan bahasa ibu kita. Kalau melihat jurnal elit dan yang sudah senior, bila kita melakukan critical appraisal, maka selalu ada lubang-lubang ketidaksempurnaannya, jadi kesempurnaan hanya untuk Allah. Mari bekerja dengan segala kekurangan dan kekuatan kita untuk pengembangan anak bangsa dan bangsa itu sendiri.” jelas Ibu Bo.

Rilis resmi UGM (15/2/12), dua naskah telah berhasil disetujui oleh IJRSP. Ibu Bo bersama dengan tiga mahasiswanya berhasil menembusnya. Beliau bersama M.A. Hakim, dan H.B. Thontowi dengan jurnal berjudul The Basis of Children's Trust Towards Their Parents in Java, Ngemong: Indigenous Psychological Analysis. Sedangkan yang kedua, beliau bersama Ardi Primasari dalam jurnal yang berjudul What Make Teenagers Happy? An Exploratory Study Using Indigenous Psychology Approach.

Kedua karya tersebut akan dipublikasikan dalam IJRSP pada bulan Juni 2012 Volume 1 Nomor 2. Ibu Bo sendiri tengah fokus menyelesaikan naskah miliknya.

“Saat ini saya berusaha mempublikasikan naskah milik saya sendiri, ada sekitar 5 naskah akan online and 6 lagi masih dalam proses.” Ungkap Ibu Bo.

Perjuangan ini bukan hanya sekedar publikasi, namun lebih untuk anak-anak muda supaya tumbuh kuat. Semakin tinggi ranting dan dahan, maka semakin kuat pula angin dan badai mengguncangnya.

“Saya mau mereka menang dan bertahan untuk saling menguatkan. Dua puluh tahun kemudian, kaum muda lah yang akan memegang dunia ini.” Tutup Ibu Bo. (mba)

Fakultas Psikologi Unair Membuka Kelas Bunda PAUD

Posted: 16 Feb 2012 02:56 AM PST

Fakultas Psikologi Unair Membuka Kelas Bunda PAUD

Dr. Seger Handoyo (PMPM Psikologi Unair)

Surabaya, Psikologi Zone – Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berkesempatan membuka kelas psikologi baru, khusus untuk Bunda PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) pada bulan Mei mendatang.

Dr. Seger Handoyo, Dekan Fakultas Psikologi Unair, Rabu (15/2/12), mengatakan bahwa, pihak fakultas akan membuka kelas baru dengan melakukan metode bergilir untuk 30 orang Bunda PAUD di setiap semester.

Ia menjelaskan tiga puluh Bunda PAUD itu akan menempuh bobot 3 SKS (satuan kredit semester) dalam satu semester, dengan satu kali pertemuan tiap minggu.

Kelas Bunda PAUD ini merupakan respon dari pihak Fakultas Psikologi Unair atas harapan yang diutarakan oleh Dyah Katarina, Pembina Bunda PAUD Kota Surabaya saat tayang-bincang (talkshow) di Unair, Senin (13/2/12).

Menurut Dyah Katarina yang juga merupakan istri Bambang DH, Wakil Wali Kota Surabaya, ada 9.000 lebih Bunda PAUD di Surabaya merupakan sukarelawan tanpa imbalan.

Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari lulusan SMP hingga SMA. Mereka dirasa kurang dalam keterampilan dalam pengasuhan anak.

Dyah berharap, kalangan universitas mau memberikan pelatihan khusus pada Bunda PAUD. (ant/mba)

Trauma Perselingkuhan, Takut Suami Selingkuh

Posted: 15 Feb 2012 02:43 AM PST

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Konsultasi oleh Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi, Psikolog Berpengalaman sebagai konselor dan tester di beberapa institusi pendidikan dan rumah sakit. Tergabung dalam lembaga Psychological Assesement.Centre "LOVE", assessment centre di bidang klinis, pendidikan, serta industri dan organisasi.

Tentang Dani Tri AstutiEmail Dani Tri Astuti

Pertanyaan:

Salam kenal dariku,

Saya baru menikah setengah tahun terakhir. Beberapa minggu lalu suami saya mengungkap rahasia yg takku duga sebelumnya. Ternyata suamiku ragu dgn keputusan yg kami ambil, untuk segera menikah setelah hampir 12 thn pacaran. Akhirnya beberapa bln sebelum kami menikah, dia membuka hati untuk cewek lain. rekan kerjanya sendiri, bahkan dia sendiri yg merekrut cewek itu. ohh iya, suamiku lulusan psikolog dan bekerja diperusahaan swasta sebagai HRD. tujuan dia hanya ingin tahu apakah

Keputusannya menikah dgn saya karena cinta atau hanya rasa kasihan karena sdh lama pacaran selain itu dia juga ingin tahu apakah dia bisa mendapatkan cewek yg lebih baik dariku, baik dari segi materi atau yg lainnya. dia berhasil dgn tujuannya itu, dia mendapat cewek yg mapan dan sdh punya pcr tapi rela meninggalkan pcrnya demi cintanya sama suamiku.

Mendengar cerita tsb, sontak saya terkejut kerena itu sangat menyakitkan buat saya. saat suamiku cerita, dia sempat memperlihatkan surat terakhir untuk cewek tsb yg dia simpan dilaptopnya. saat suamiku tidak dirumah, saya membuka isi surat tsb. saya semakin sakit hati karena isi surat itu menceritakan betapa suami saya mencintai cewek tsb. karena dia menemukan kenyamanan dlm hubungan mereka. suamiku mengharapkan sosok perempuan yg manja, merasa membutuhkan dia dan bukan perempuan yg mandiri. sedangkan saya, selama pacaran terlalu mandiri karena trauma ditinggal ayah disaat saya masih remaja. saya takut bermanja atau bergantung dgn orang lain karena takut ditinggalkan.

Pada akhirnya suami saya memilih saya, karena dia tahu kami punya impian yg ingin kami raih bersama. dia juga percaya suatu saat jika kami menikah, keadaan akan jadi lebih baik dan saya akan bisa jadi cewek yg manja dan menentramkan. kini hal itu mulai dia rasakan. tapi rasa sakit yg harus saya tanggung, masih blm bisa saya hapus. karena kejadian ini bukan yg pertama kalinya, dulu diusia pacaran ke7, dia melakukan hal yg sama. hanya karena dia mencurigai saya selingkuh. padahal itu tidak benar.

Kejadian pertama itu masih menyisakan trauma buat saya, setiap dia marah dan cuek dengan saya. saya jadi ingat rasa sakit itu dan berpikir mungkin dia punya perempuan lain.

Selama pacaran bahkan sampai saat ini, kami hidup terpisah. suami kerja diluar kota. apakah hal tsb pemicu perselingkuhan itu? , apa yg harus saya lakukan untuk bisa menghapus trauma perselingkuhan ini dan kenapa dia tega melakukan itu? (R,28,karyawan swasta)

Jawaban:

Dear R,

Saya turut simpati atas pengalaman yang Anda alami, hanya hidup itu ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jadi apakah Anda mau terus hidup di masa lalu Anda dan tidak mau hidup maju mewujudkan impian Anda dengan pasangan Anda terwujud?

Jika Anda ingin memperbaiki, dan masih memiliki perasaan cinta. Maka Anda dan suami harus memperbaiki beberapa hal, kalian harus saling support, komunikasi lebih berkualitas dan saling memegang komitmen. Komunikasi itu sangat penting, dengan berkomunikasi kalian dapat saling memberikan support satu sama lain, dengan begitu hubungan kalian akan semakin dekat dan berkualitas, sehingga komitmen akan terbentuk dengan sendirinya.

Apakah jarak merupakan pemicu atas perbuatan suami anda?
Ya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa, orang akan semakin dekat hubungannya apabila mereka selalu berdekatan, namun jarak juga tidak akan menjadi masalah kalau, kalian berdua saling dapat terbuka dan menjalin komunikasi yang efektif. Berdasarkan kasus Anda, terlihat bahwa komunikasi diantara kalian tidak efektif, sehingga kelekatan diantara kalian kurang tercipta.

Apa yg harus anda lakukan untuk bisa menghapus trauma perselingkuhan ini?

Yang dapat anda lakukan adalah:

Pertama, anda harus bertemu dengan suami anda yang katakan semua yang menjadi pikiran dan perasaan yang mengganjal di hati anda sampai saat ini, dan dengarkan baik-baik apa penjelasan dari suami anda. Jika ia, mau berubah dan berjanji untuk tidak akan membandingkan atau mencari wanita lain, dan suami anda pun membuktikan bahwa anda adalah segalanya buat suami anda, maka anda harus membalas usaha suami anda, dengan tidak lagi memikirkan kejadian di masa lalu. Namun jika sebaliknya, maka anda harus berpikir kembali dengan mempertimbangkan banyak hal. Masa lama berhubungan tidak menjamin seutuhnya kebahagian. Yang menjamin suatu kebahagiaan bagi pasangan adalah adanya respek, adanya keterbukaan, adanya rasa saling memiliki, dan saling memegang komitmen. Respek atau saling menghargai dan menghormati, bukan saja isteri kepada suami, begitu juga dengan suami kepada isteri. Perlu diingat, sebuah hubungan tidak akan pernah berjalan mulus, apabila masih tersimpannya prasangka.

Kedua, sudah saatnya Anda berpikir secara rasional. Jangan biarkan perasaan Anda yang subyektif mendominasi semua pikiran dan perilaku Anda. Anda perlu ingat, Anda merupakan wanita yang punya banyak kelebihan, jadi mulai dari sekarang mulai menghargai diri Anda. Bagaimana orang akan menghargai Anda, jika Anda tidak menghargai diri Anda sendiri.

kenapa dia tega melakukan itu?
Ada beberapa kemungkinan, pertama seperti yang Anda ungkapkan, bahwa suami Anda melakukan perselingkuhan tersebut dikarenakan ingin membuktikan bahwa Anda adalah yang terbaik buat dia. Kedua, suami Anda, menginginkan keberadaannya diakui, sehingga ia mencari wanita yang suka bermanja-maja, terlihat lemah, karena suami anda merasa bahwa ia kan berguna untuk melindungi si wanita ini. Ketiga, iya kesepian, ia haus akan perhatian dan kasih sayang. Keempat, iseng semata.

Kunci agar hubungan keluarga Anda dengan suami Anda langgeng adalah forgiveness. Anda memaafkan semua kesalahan suamimu yang telah di perbuatnya. Setelah itu, Anda dan suami harus merubah perilaku masing-masing. Semua belah pihak memenuhi tuntutan dari tiap pasangan dan memegang komitmen.

Dengan komunikasi di ubah menjadi lebih baik, kalian bisa menjadi lebih saling terbuka, sehingga tahu keinginan dari masing-masing pasangan dan saling memenuhi keinginan tersebut, ditambah lagi sudah berkurangnya prasangka, maka kehidupan Anda pasti akan lebih tenang dan damai.

"Cara terbaik untuk melupakan masa lalu adalah bukan dengan menghindari atau menyesalinya, namun dengan menerima dan memaafkannya"

Resiko Kekerasan Remaja Meningkat di Hari Valentine

Posted: 14 Feb 2012 08:31 PM PST

Resiko Kekerasan Remaja Meningkat di Hari Valentine

Sherry L. Hamby

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Pada bulan Februari, romantisme biasanya terkait dengan Hari Valentine. Tidak semua menjadi bahagia, pasangan Anda mungkin dapat menjadi kasar. Beberapa remaja menjadi kasar dengan mengerahkan kekuatan dan kontrol terhadap pasangan mereka.

Beberapa remaja dapat menjadi kasar saat keinginan kencan mereka harus dipenuhi oleh pasangan. Kecemburuan-kecemburuan merupakan tanda-tanda yang dapat mengawali sikap kasar pada pasangan. Mereka lebih sering mengendalikan dan memantau perilaku pasangan.

“Bahkan Anda harus mengirim foto untuk membuktikan pada pasangan Anda, bahwa Anda benar-benar di rumah nenek Anda.” Kata Sherry L. Hamby, PhD, profesor dari University of the South, Sewanee, dikutip dari APA (13/2/12).

Remaja yang menggunakan sikap kasar untuk memecahkan masalah, akan mengalami peningkatan risiko kekerasan. Bukan hanya kekerasan secara fisik, namun juga cyberbullying dan cybertalking.

Menurut Dr. Hamby, Hari Valentine dan hari libur lainnya dapat membuat resiko kekerasan meningkat di Amerika Serikat, karena konsumsi alkohol. Kekerasan ini juga berlaku untuk agresi psikologis, terutama oleh pria. Hari Valentine juga dapat meningkatkan kerentanan, penelitian telah menunjukkan bahwa untuk beberapa remaja dapat menjadi hari hubungan seksual, termasuk hubungan seksual pertama.

Tanda-tanda klasik akibat sikap kasar oleh pasangan remaja adalah munculnya tekanan psikologis, seperti gejala kecemasan atau depresi, yang semua itu berhubungan dengan sikap kasar dari pasangan remaja dan beberapa masalah terkait lainnya.

“Ada banyak langkah yang dapat dilakukan orang tua saat mengetahui anak mereka menjadi korban sikap kasar pasangannya, dimulai dengan menyatakan keprihatinan dan menawarkan perlindungan, justru jangan menyalahkan saat berbicara dengan mereka.” tutup Dr. Hamby.(mba)

 
Copyright 2010 dummy autoblog. All rights reserved.
© 2011 dummy autoblog | Powered by Blogger | Ping My Blog to : google - yahoo - bing - ask