artikel asyik online

health beauty care

Senin, 13 Februari 2012

PsikologiZone.com

PsikologiZone.com


APA Memuji Pengadilan Menolak Larangan Pernikahan Sesama Jenis

Posted: 08 Feb 2012 07:29 PM PST

APA Memuji: Pengadilan Menolak Larangan Pernikahan Sesama Jenis

Suzanne Bennett Johnson (Presiden APA)

California, Psikologi Zone – Asosiasi Psikologi Amerika memuji keputusan pengadilan pada Selasa kamarin, yang menyatakan hukum larangan pernikahan sesama jenis tidak konstitusional.

Keputusan ini muncul setelah Pengadilan Tinggi California menolak dua hukum anti-gay dalam hukum pernikahan, secara efektif ini melegalkan pernikahan sesama jenis di negara bagian tersebut.

American Psychological Association (APA), organisasi profesional terbesar untuk psikologi Amerika, telah lama mendukung pernikahan sesama jenis. Hari ini, organisasi tersebut mengeluarkan pernyataan pujian pada legalnya pernikahan sesama jenis dalam tatanan hukum.

“Penelitian menunjukkan pernikahan memberikan manfaat meningkatnya kesehatan mental, bahwa pasangan sesama jenis sama halnya dengan pasangan heteroseksual. Tidak ada dasar ilmiah yang menyangkal kesetaraan pernikahan pada pasangan sesama jenis.” kata Suzanne Bennett Johnson, presiden APA, dikutip dari LiveScience (7/2/12).

Penelitian tahun 2010 di Amerika Serikat, telah menunjukkan bahwa anak-anak dari orang tua gay ternyata sama baiknya dengan anak normal. Anak-anak dengan dua ibu lesbian, misalnya, memiliki tingkat yang sama dalam prestasi akademik dan kesejahteraan dengan anak-anak dengan dua orangtua heteroseksual.

Opini publik juga mendukung hasil ilmiah tersebut. Pada bulan Mei 2011, lembaga polling Gallup melaporkan untuk pertama kalinya, bahwa lebih dari setengah orang Amerika mendukung pernikahan sesama jenis. Survei mengungkapkan bahwa 53 persen orang Amerika mendukung hak pernikahan bagi pasangan gay, meningkat 9 persen dibanding tahun sebelumnya.

Penolakan hukum larangan pernikahan sesama jenis tidak akan berhenti sampai di California. Bila banding diajukan, kasus pernikahan tersebut akan ditetapkan melalui pengadilan yang lebih tinggi untuk keputusan akhir. (mba)

Kriteria Baru Alzheimer, Ubah Diagnosis Jutaan Orang

Posted: 08 Feb 2012 06:48 PM PST

Kriteria Baru Alzheimer, Ubah Diagnosis Jutaan Orang

Dr. John Morris (kanan, wustl.edu)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Hampir semua orang yang didiagnosis ringan terkena penyakit Alzheimer akan mengalami perubahan diagnosis dan bahkan bisa diputuskan tidak mengalami penyakit ini. Sebuah studi baru dalam Jurnal Archives of Neurology, ini terjadi karena terdapat kriteria baru yang diusulkan dalam diagnosis kognitif yang diterapkan.

Sebaliknya, orang yang saat ini didiagnosis memiliki Alzheimer “sangat ringan” dan “ringan” akan direklasifikasi dalam gangguan kognitif ringan (MCI), yang saat ini diakui sebagai tahap intermiten antara hilangnya fungsi mental dengan usia dan perkembangan demensia.

“Kriteria baru ini memperluas definisi gangguan kognitif ringan, dan ini akan menyebabkan kebingungan ketika dokter berusaha untuk mendiagnosa MCI dan Alzheimer” kata Dr John Morris, seorang profesor neurologi di Washington University School of Medicine di St Louis, dikutip dari myhealthnewsdaily (6/2/12).

Morris menambahkan, kriteria baru ini menyoroti kekeliruan berpikir tentang MCI dan Alzheimer yang menganggap keduanya berbeda padahal ini merupakan proses penyakit yang sama.

Alih-alih memperluas kriteria sehingga lebih banyak orang didiagnosis dengan MCI, peneliti harus melakukan sebaliknya, yaitu mencoba untuk mencari cara menampi bawah kelompok pasien dengan MCI memiliki kecenderungan terkena penyakit Alzheimer.

“Kami hanya bisa menyebutnya sebagai awal penyakit Alzheimer. Tidak perlu masuk dalam kategori baru,” kata Morris.

Sebelumnya, kognitif ringan didefinisikan sebagai penurunan fungsi kognitif, seperti memori dan bahasa yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Menurut Morris, dampak dari perubahan ini, akan ada sekitar 2,5 juta orang di Amerika Serikat akan diklasifikasikan sebagai MCI yang sebelumnya mengidap Alzheimer ringan.

William Thies, petugas medis di Asosiasi Alzheimer Amerika mengatakan, kriteria baru ini tidak akan membuat banyak kebingungan. Beberapa ahli telah memikirkan MCI dengan cara yang dijelaskan oleh kriteria baru. Sedangkan mereka yang konservatif, tetap tidak mengubah cara mereka mendiagnosis Alzheimer.

“kriteria yang diusulkan untuk MCI kurang dari satu tahun, dan para ahli kemungkinan akan terus membahas di tahun-tahun yang akan datang.” ungkap Thies. (mba)

Pola Pikir Masih Seperti Anak Kecil

Posted: 07 Feb 2012 10:17 PM PST

Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi

Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi

Konsultasi oleh Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi, Psikolog berpengalaman dalam psychological testing di berbagai institusi pendidikan dan perusahaan Indonesia. Tergabung dalam lembaga Psychological Assesement.Centre "LOVE", assessment centre di bidang klinis, pendidikan, serta industri dan organisasi.

Tentang Israele EuaggelionEmail Israele Euaggelion

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,,,wr.wb.
Saya remaja putri berusia 19 tahun. Saya masih berstatus mahasiswi di universitas di kota saya. Saya berasal dari keluarga broken home. Ibu dan ayah telah bercerai sejak tahun 2004. Masalah yang ingin saya konsultasikan adalah mengapa di usia saya yang 19 tahun ini, pola pikir dan tingkah laku saya masih seperti anak kecil. Jiwa saya juga masih seperti anak kecil.

Bahkan ada anak kecil yang melihat tingkah laku saya kemudian ia berkata bahwa saya seperti anak kecil. Kakak dan paman saya pun mengatakan hal yang sama tentang saya ini. Saya sering frustasi ketika memikirkan hal ini. Namun begitu saya tidak menyalahkan perceraian orangtua saya. Saya hanya ingin tahu apakah perceraian orangtua saya menjadi penyebab gangguan psikologi saya ini??? Mohon bantuannya, Terima kasih. (M.R.A.,19, Mahasiswa)

Jawaban:

Dear M.R.A,

Sebelumnya, Anda patut bersyukur karena telah disadarkan oleh lingkungan dan diri Anda pun menyadarinya bahwa jiwa, pola pikir, dan perilaku Anda saat ini tidak sesuai dengan remaja berusia 19 tahun pada umumnya (atau yang Anda sebut “seperti anak kecil”).

Di sini, M.R.A tidak menjelaskan terperinci kejadian perceraian kedua orang tua sehingga saya pun tidak dapat memastikan apakah pribadi Anda saat ini banyak dipengaruhi oleh kejadian tersebut. Pada dasarnya, perceraian memang memiliki dampak pada setiap anak, khususnya untuk perkembangan jiwanya. Namun, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kepribadian anak tersebut dan lingkungan yang mendukung, sehingga setiap anak akan memiliki dampak yang berbeda-beda. Misalnya, ada anak korban percerain yang sangat frustasi dengan kejadian tsb sehingga mempengaruhi pendidikan dan pergaulannya, menjadi minder dan merasa tidak disayang orang tuanya. Sebaliknya, ada pula anak korban perceraian yang menjadi termotivasi untuk belajar dan bergaul karena ingin melupakan masalah yang terjadi di dalam keluarga.

Saat ini Anda tidak perlu menjadi stres dan frustasi. Anda tidak perlu lagi menengok ke belakang dan mencari penyebab mengapa Anda memiliki pola pikir dan perilaku seperti itu. Sebaiknya, saat ini Anda berusaha untuk melangkah maju ke depan agar memiliki kepribadian yang sesuai dengan usia Anda.
Cara Anda tidak menyalahkan perceraian orang tua sebagai penyebabnya, menunjukkan bahwa Anda telah memiliki pola pikir yang cukup matang. Selanjutnya, sedikit demi sedikit Anda dapat mengkoreksi diri.

Hal-hal yang dikatakan oleh orang lain (paman atau kakak) dapat Anda renungkan dan jangan menjadikan diri Anda frustasi, jangan diabaikan atau ditolak, tetapi dijadikan motivasi untuk merubah diri Anda semakin positif dan dewasa. Anda tetap bisa menjadi diri Anda sendiri namun Anda hanya perlu pemahaman dalam menghadapi setiap situasi dan permasalahan. Karena masyarakat menilai sikap seseorang dari caranya menghadapi berbagai situasi.

Oleh karena itu, di mana saja Anda berada, lakukanlah segala hal dengan tanggung jawab. Cara Anda bersikap dan bertindak di tengah-tengah lingkungan juga menunjukkan kedewasaan Anda. Misalnya, Anda dapat membedakan cara berbicara atau berperilaku di depan orang tua dan teman-teman.

"Life isn’t about finding yourself. Life is about creating yourself."
- George Bernard Shaw

Bingung Menjawab Pertanyaan Anak

Posted: 06 Feb 2012 10:11 PM PST

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi

Konsultasi oleh Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum Jombang, direktur dan konsultan pendidikan anak, rekan ahli psikologi di beberapa lembaga, dan pernah menjadi pembicara di berbagai acara seminar, pelatihan dan talk show.

Tentang Uswatun HasanahEmail Uswatun Hasanah

Pertanyaan:

Saya ingin menanyakan tentang bagaimana cara menjawab pertanyaan seorang anak tentang perkosaan. Kebetulan pas nonton berita ada kasus perkosaan di angkot anak saya bertanya kepada saya . Saya binggung menjawab terus terang atau enggak tapi waktu itu saya menjawab kalo diperkosa itu seperti dianiaya atau di siksa. anak saya umur 8 tahun. Mohon bimbingannya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.(L,29, Ibu Rumah Tangga)

Jawaban:

Ibu L yang baik,Pendidikan sex itu sebaiknya dilakukan sejak dini, menjawab dan menjelaskan tentang kasus pemerkosaan kepada anak memang seharusnya dilakukan dengan menggunakan kemasan bahasa yang mudah dimengerti anak, bahwa kasus pemerkosaan adalah tindakan pemaksaan terhadap orang lain dan termasuk perbuatan yang tidak baik, berikan penjelasan dalam koridor mendidik dan memberikan pengetahuan bukan untuk menakuti2 anak, demikian jawaban saya semoga bermanfaat.

Hubungan Buruk dengan Ibu

Posted: 05 Feb 2012 10:09 PM PST

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Konsultasi oleh Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi, Psikolog Berpengalaman sebagai konselor dan tester di beberapa institusi pendidikan dan rumah sakit. Tergabung dalam lembaga Psychological Assesement.Centre "LOVE", assessment centre di bidang klinis, pendidikan, serta industri dan organisasi.

Tentang Dani Tri AstutiEmail Dani Tri Astuti

Pertanyaan:

Saya memiliki hubungan yang buruk dengan ibu saya. Dari saya kecil beliau mendidik saya dengan keras bahkan memukul jika saya melakukan kesalahan sekecil apapun. Saya juga tahu beliau agak tertekan dengan hubungannya dengan ibu mertuanya (nenek saya) yang sering mencelanya dan ayah saya hanya menghiraukannya.

Yang tidak dapat saya terima adalah saya merasa saya hanya sebagai pelampiasan kekecewaannya pada ibu mertuanya dan ayah saya. Lalu, setelah adik lahir, ibu benar-benar mengabaikan saya. Hal itu menyebabkan saya tumbuh dewasa dengan menyimpan kekecewaan yang besar ke ibu saya dan sering memberontak dan bertengkar dengan beliau.

Hal ini juga mempengaruhi hubungan saya dengan orang lain. Sekali saya disakiti saya cenderung defensif dan gampang down lalu mudah khawatir. Bagaimanakah caranya agar saya dapat terlepas dari perasaan tersebut?(K,26,Karyawan Swasta)

Jawaban

Dear K,

Bagaimana cara agar kamu terlepas dari perasaan tersebut adalah jawabannya hanya satu yaitu give her forgiveness.

Seseorang tidak mungkin forgive (memaafkan) kecuali jika unforgive (tidak memaafkan) telah terjadi. Forgiveness memang baru dapat muncul setelah adanya unforgiveness, namun orang yang mengalami unforgiveness bukan berarti pasti akan mengalami forgiveness. Forgiveness merupakan satu cara untuk mengatasi unforgiveness. Unforgiveness didefinisikan sebagai emosi dingin” yang melibatkan rasa marah, sakit hati, dan permusuhan, bersama dengan motivasi untuk meghindar atau membalas transgresor (orang yang melakukan kesalahan) (Worthington & Wade, 1999).

Dengan memaafkan kita akan menghapus kemarahan kepada orang lain, seperti kita menggosok karet penghapus diatas kertas, untuk membersihkan coretan yang salah. Coba, saat K menggosok penghapus apa yang ada di pikiran kamu? Pastinya pikiran kita akan tertuju pada, bagaimana tulisan-tulisan ini akan hilang dan kertas kembali putih bersih, pikiran kita tidak terfokus lagi kepada apa penyebab dari goresan tersebut.

Semua kemaran yang direpresi (disimpan cenderung ditekan) akan berbekas dalam hidup kita, seperti yang terjadi sama kamu. Dengan direpres, apakah kemarahan kamu hilang? Saya rasa tidak. Justru kemarahan tersebut mempengaruhi dan menempati ruang tertentu di dalam alam bawah sadar kamu. Selanjutnya pikiran tersebut, akan mewarnai seluruh hidup kamu. Salah satunya kamu mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal.

K, suka atau tidak suka atas sesuatu yang tidak menyenangkan dan tersimpan di alam bawah sadar, akan mempengaruhi cara hidup kita, baik itu secara langsung ataupun melalui suatu kejadian. Seseorang yang memiliki kemarahan namun di repress, maka diibaratkan seperti bom otomatis yang akan meledak sewaktu-waktu. Maka apa pun yang diucapkan oleh orang yang suka memendam kemarahan sering kali tajam dan menyakiti orang banyak.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Silahkan marah, berarti kamu jujur dengan perasaan kamu, hanya dijadikan sebagai tanda. Kemarahan muncul saat perasaan kita menangkap signal ketidakadilan terhadap kita, tugas kita adalah mencari tahu persepsi kita terhadap ketidakadilan tersebut.

Apabila kemarahan tersebut berdasarkan ketidakadilan yang salah, maka kita akan menjadi seperti makhluk yang tidak tahu norma, karena disetiap kesempatan menjadi marah dan nantinya justu akan membentuk pola kebiasaan. Jika ini terjadi, sungguh mengerikan. Sebaliknya jika kita marah atas persepsi ketidakadilan yang benar, maka kemarahan kita akan menjadi sesuatu yang menyehatkan mental kita. Jika kamu berada di kondisi ini, silahkan anda marah.

Memaafkan merupakan salah satu terapi, mengapa demikian, karena memaafkan merupakan upaya cerdas, karena kita tidak melupakan. Melupakan bukanlan tindakan yang cerdas. Dengan memaafkan tidak berarti kamu menyukai kejadian yang telah menyekiti kamu, namun kita diajarkan untuk saling memaafkan. Bila kita sudah terbiasa memaafkan, dengan mudah kita mendiversivkasikan pemaafan ini kepada siapapun juga, maka percaya lah perasaan dan pikiran kamu menjadi lebih tenang dan nyaman, sehingga perasaan khawatir akan berkurang.

Bagaimana dengan hubungan kamu dengan orang lain, lalu sikap kamu yang defensive dan mudah down? Semua itu akan berkurang, karna kamu sudah belajar jujur dengan diri, kamu menjadi pribadi baru,lebih tenang, lebih percaya diri, dan focus ke masa depan seperti pembicaraan diawal. Bahwa disaat kita menghapus tulisan di atas kertas, kita tidak berpikir sebab-sebab terjadinya tulisan tersebut, justru kita terfokuskan kepada cara bagaimana membuat kertas tersebut menjadi bersih putih kembali.

“Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future”

Psikosinema Festival Angkat Isu Sosial

Posted: 05 Feb 2012 04:58 AM PST

Psikosinema Festival Angkat Isu Sosial

Psikosinema Festival (atmajaya)

Jakarta, Psikologi Zone – Pada tahun 2012 ini, Psikosinema Festival hadir dengan membahas isu sosial dan perubahan sosial. Psikosinema Festival kali ini ingin memberikan sesuatu hal yang berbeda. Bila kebanyakkan isu sosial diangkat oleh media surat kabar dan elektronik, maka di Psikosinema Festival akan menyajikannya dalam sebuah cerita film.

Psikosinema Festival adalah sebuah acara bersifat non profit dan terbuku untuk umum yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) Unika Atma Jaya. Festival ini diadakan setiap tahun dan tahun ini menginjak usianya ke-5.

Rilis resmi Universitas Atma Jaya (2/12), Psikosinema Festival akan dimulai pada Senin, 6 Februari 2012 hingga Sabtu 11 Februari 2012. Festiva ini dibagi menjadi empat acara yaitu pemutaran film, layar tancap, fringe event, dan ditutup dengan konser musik.

Pemutaran film diadakan di Studio teknik Unika Atma Jaya pada hari senin hingga jumat. Layar tancap akan diadakan pada senin, rabu dan jumat di BKS Atma Jaya, Cipinang, Manggarai (TBC). Fringe event diadakan pada senin hingga jumat, bertempat di Hall C Unika Atma Jaya. Terkahir, penutupan acara dilakukan pada hari sabtu di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI).

Psikosinema Festival merupakan kegiatan perfilman yang berkaitan dengan ilmu psikologi. Visi dan misi Psikosinema Festival adalah memberikan edukasi dan hiburan dengan menggunakan media film sebagai media pembelajaran. Setiap akhir pemutaran akan ada diskusi mengulas film dari sisi psikologi.(mba)

Peran Psikologi dalam Perang dan Militer

Posted: 03 Feb 2012 08:36 PM PST

Peran Psikologi dalam Perang dan Militer

Janice H. Laurence (Temple University)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Ketika Amerika Serikat diminta untuk menanyakan faktor keberhasilan dalam perang abad ke-20 dan konflik abad ke-21, maka yang dicari adalah jawaban pada bidang-bidang seperti fisika, kimia dan teknologi informasi. Namun ada bidang keilmuan yang memiliki kontribusi dalam perang modern dan tidak terlihat, yaitu psikologi.

Menurut Janice H. Laurence, profesor perkembangan dewasa dan organisasi di Temple’s College of Education, bidang psikologi memiliki pengaruh dalam sebuah perang melalui berbagai cara. Sebaliknya, ia mengatakan, perang modern seharusnya memerlukan inovasi dalam bidang psikologi yang memiliki aplikasi jauh melampaui militer.

Laurence, yang baru saja pensiun dari Pentagon sebagai direktur penelitian dan analisis di Kantor Wakil Menteri Pertahanan, Personalia dan Kesiapan, telah mengumpulkan sebuah pengetahuan terbaru dari bidang psikologi militer dan menerbitkannya dalam buku berjudul The Oxford Handbook of Military Psychology (Januari, 2012), rilis Temple University (31/1).

Topik yang dibahas di buku pegangan ini mencakup bidang klinis, psikologi industri/organisasi, eksperimen, dan sosial. Kontributor dalam buku ini adalah para ahli internasional terkemuka dalam psikologi militer.

“Militer merupakan tempat penelitian mutakhir tentang kepemimpinan”, kata Laurence.

Penelitian menarik dalam sebuah kepemimpinan saat kelangsungan hidup dan kesejahteraan dipertaruhkan dalam sebuah perang. Psikologi militer sedang membangun pengetahuan yang dapat menginformasikan strategi mengembangkan pemimpin yang efektif.

Kondisi perang modern saat ini, memiliki prosedur evakuasi yang cepat dan telah membawa perbaikan dalam psikologi konseling dan klinis untuk mengatasinya.

“Kami melihat perkembangan menarik dalam pengobatan gangguan stres, cara terbaik menangani trauma dan bagaimana membangun ketahanan,” katanya.

Daerah lain yang menunjukkan hubungan penting antara militer dan psikologi adalah perekrutan, pelatihan, memotivasi, menjaga, mengelola, mengintegrasikan dan mempertahankan anggota militer. Bahkan aplikasinya dapat diterapkan dalam arena non-militer.

“Pengetahuan yang diperoleh dari psikologi militer meningkatkan kehidupan manusia dalam semua domain,” tutup Laurence. (mba)

Memotivasi dengan Ancaman, Picu Ketidakbahagiaan Karyawan

Posted: 01 Feb 2012 04:07 AM PST

Memotivasi dengan Ancaman Picu Ketidakbahagiaan Karyawan

Ilustrasi (dadesignatedhata)

Perancis, Psikologi Zone – Jika karyawan tidak puas di tempat kerja, bisa jadi sebagian karena gaya manajemen atasan mereka. Hasil sebuah penelitian baru oleh Dr Nicolas Gillet, dari Universite François Rabelais di Prancis, dan timnya.

Manajer yang menggunakan ancaman sebagai cara untuk memotivasi karyawan, organisasi yang tidak mendukung kontribusi individu, perasaan frustrasi pada kebutuhan dasar untuk otonomi, kompetensi, dan keterkaitan dengan rekan kerja, cenderung memiliki dampak negatif pada kesejahteraan karyawan.

Penelitian ini berjudul The Impact of Organizational Factors on Psychological Needs and Their Relations with Well-Being, dipublikasikan secara online dalam Springer’s Journal of Business and Psychology, dikutip Science Daily (18/1/12).

Kesejahteraan di tempat kerja memiliki perhatian lebih karena memiliki dampak pada ekonomi perusahaan, terutama bila peforma kinerja buruk. Para peneliti melihat dampak dari dukungan organisasi yang dirasakan dan gaya interpersonal atasan pada kesejahteraan karyawan.

Pekerja diminta untuk mengisi kuesioner yang menanyakan tentang persepsi mereka pada gaya manajemen supervisor mereka, serta sejauh mana mereka merasa bahwa organisasi mendukung mereka.

Para karyawan yang merasa bahwa atasan mereka mendukung otonomi mereka, kompetensi dan keterkaitan dengan rekan kerja juga adanya dukungan dari organisasi, menunjukkan rasa bahagia dan meningkatkan kepuasan. Sebaliknya, karyawan yang merasa atasan mereka berperilaku memaksa, menekan, dan otoriter, dan organisasi dianggap tidak mendukung mereka, menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.

Para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa kedua faktor yaitu organisasi dan manajerial memiliki pengaruh pada kepuasan atau rasa frustrasi. Supervisor harus memberikan bawahan pilihan dari pada ancaman dan melakukan strategi yang dapat meningkatkan tenaga kerja dengan baik. (mba)

Kado Istimewa dalam Seminar Psikologi Terapan

Posted: 30 Jan 2012 11:58 PM PST

Kado Istimewa dalam Seminar Psikologi Terapan

Seminar Psikologi Terapan (ugm)

Yogyakarta, Psikologi Zone – Sukses mengadakan seminar nasional ilmiah pada 28 Januari oleh bagian Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), sekaligus memberikan persembahan pada Prof. Johana E. Prawitasari dan pengembangan ilmu psikologi. Persembahan tersebut berupa buku yang bejudul “Psikologi Terapan: Melintas Batas Disiplin Ilmu”. Buku ini telah ditulis bersama oleh murid-muridnya dan disunting oleh Prof. Johana E. Prawitasari.

“Buku ini adalah buku yang hebat karena ditulis oleh 22 orang penulis dengan bimbingan Bu Menuk. Luar biasa! Karena menurut saya sebagai ilmuwan kado ulang tahun yang membanggakan adalah sebuah buku yang ditulis oleh murid-muridnya”, kata Drs. Slamet Riyadi, M.Kes, sisten direktur Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y), rilis UGM (30/1/12).

Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman penulis-penulisnya di bidang pendidikan, kesehatan mental dan fisik, industri dan organisasi, lingkup masyarakat dan berbagai kebijakan. Selain berdasarkan pengalaman dan hasil penelitian, mereka juga melakukan perbandingan dengan bahan acuan yang ada.

Seminar ini di selenggarakan di ruang auditorium Fakultas Psikologi UGM, bersifat terbuka untuk umum dan dalam bentuk talk show. Acara ini merupakan kerja sama antara Fakultas Psikologi UGM dengan Erlangga, selaku penerbit dari buku Psikologi Terapan: Melintas Batas Disiplin Ilmu.

Acara ini dihadiri oleh 4 pembicara untuk mengulas isi buku Psikologi Terapan: Melintas Batas Disiplin Ilmu. Tiga diantara mereka adalah dosen Fakultas Psikologi UGM, yaitu Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Dr. Neila Ramdhani, Msi., Med., dan Dr. Bagus Riyono, M.A. Sedangkan pembicara lainnya berasal dari luar Psikologi yaitu Drs. Slamet Riyadi, M.Kes., asisten direktur LP3Y. Seminar dimoderatori oleh Prof. Johana Endang Prawitasari, PhD.

Peserta yang hadir sebanyak 300 orang, mulai dari ujung barat Indonesia hingga wilayah timur, mulai dari Padang, Banjarmasin, Palu, Manado, dan NTT. Banyaknya para akademisi dan praktisi yang hadir dalam ulasan buku ini diharapkan dapat mengembangkan pendekatan terapan psikologi dan berbagai setting. (mba)

 
Copyright 2010 dummy autoblog. All rights reserved.
© 2011 dummy autoblog | Powered by Blogger | Ping My Blog to : google - yahoo - bing - ask